"Setelah selesai menghadap atasanku, biar aku sendiri yang akan menjelaskan semuanya pada Kakek." Kalimat itu seketika terlintas di benak Alya bagaikan sebuah peringatan, tepat saat ia menatap mata tua Kakek Kusuma yang tengah menuntut jawaban. Mulut Alya sudah setengah terbuka. Hatinya menjerit, rasanya ingin sekali melepaskan beban rahasia yang mengimpit dadanya. Namun, bayangan wajah pucat Arga Putra di atas kursi roda, serta janjinya di ruang VVIP saat itu, kembali berkelebat di ingatannya. ''Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara berdua saja dari hati ke hati dengan Kakek," ucap Putra waktu itu. Alya kesulitan menelan ludah. Ia tidak boleh egois. Hak untuk menjelaskan semua ini sepenuhnya adalah milik Putra, bukan dirinya. "Alya, tolong jawab Kakek! Siapa perempuan itu?!" desak Kakek Kusuma, tangannya semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan Alya. "Kakek ... saya ... saya tidak tahu siapa perempuan yang dimaksud oleh Jenderal Sudirman tadi," jawab Alya deng
อ่านเพิ่มเติม