Sementara itu, Hendra menunduk, rahangnya mengeras menahan malu. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera meraih lengan ibunya. “Bu, ayo … kita pergi,” ucapnya pelan, tapi lebih tegas.Bu Dianti sempat memberontak, tapi tatapan orang-orang di ruangan itu membuatnya akhirnya mengalah. Dengan dengusan kesal, ia membalikkan badan dan melangkah keluar, diikuti Hendra yang tidak berani menoleh lagi ke arah Alya.Pintu klinik tertutup dengan bunyi cukup keras.Suasana pun perlahan kembali tenang, meski sisa ketegangan masih terasa.Alya mengembuskan napas panjang, bahunya sedikit turun. Ia menutup mata sejenak, lalu kembali ke ruang tindakan.“Maaf menunggu,” ucap Alya pada bocah yang tadi ia tangani. Melanjutkan pekerjaannya, Alya terlihat profesional, seolah kejadian barusan sama sekali tidak memengaruhinya. Padahal sejumlah pasien saja masih cukup asyik memperbincangkannya diam-diam.Usai menenangkan antrean pasien di depan, Dina yang masuk ke dalam ruang tindakan tepat ketika Alya selesai
Last Updated : 2026-05-26 Read more