"Siapa, Ra?" desak Aurel lagi sudah tidak sabar.Zahra menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Bang Zein."Aurel otomatis melongo. Mulutnya terbuka lebar dengan sepasang mata yang melotot sempurna. Suasana kamar kos mendadak sunyi senyap selama beberapa detik sebelum akhirnya Aurel memekik, "Kamu serius, Ra? Bang Zein? Maksudnya kamu sedang dekat dengan Abang penjual donat kampung yang dulu sering mangkal di bawah pohon sonokembang itu? Di depan kampus kita?" suara Aurel meninggi. Dan Zahra langsung membekap mulutnya. Khawatir ada yang mendengar.Tanpa ragu Zahra mengangguk mantap. "Iya, Rel. Bang Zein yang itu.""Kamu nggak salah, Ra? Pikirkan lagi baik-baik." Aurel menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak percaya yang teramat sangat. "Logikamu ke mana, Zahra? Kamu itu mahasiswi akuntansi terbaik di angkatan kita, cantik, imut, dan banyak yang mengejar. Kenapa bisa-bisanya hatimu nyangkut pada seorang tukang donat jalanan?"Zahra membalas tatapan Aurel
Leer más