Membaca sebaris pesan singkat dari Zein, jantung Zahra justru semakin berdebar kencang. Tanpa berpikir panjang, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggil. Hanya dalam dua kali nada panggil, sambungan terhubung."Assalamu'alaikum," terdengar suara bernada bariton yang khas dan hangat di seberang sana membelah keheningan malam."Wa'alaikumsalam, Bang," jawab Zahra pelan.Di ujung telepon, Zein terdengar mengembuskan napas pelan. "Kamu sedang di mana bisa menelepon begini, Ra? Apa tidak khawatir didengar Papa dan Bundamu jika mengobrol malam-malam?"Spontan Zahra mendengkus kecil, setengah gemas dengan pertanyaan itu. "Abang nggak perlu berpura-pura lagi, ya. Bukankah Abang sendiri yang sudah 'mencuri start' datang ke Tulungagung bersama keluarga besar untuk melamarku?"Gelak tawa renyah seketika pecah di seberang sana, terdengar begitu lepas dan lega. "Ternyata calon istriku sudah tahu," ujar Zein. "Apa Papa dan Bunda baru memberitahumu?""Iya, Papa dan Bunda baru saja mengajakku
Leer más