"Betul itu, Mbak Maulida!" celetuk seorang ibu di sebelah Ira. "Ditinggal berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tanpa kabar sama sekali itu sudah makanan sehari-hari kita di unit khusus ini.""Iya, Mbak," timpal wanita lain seraya menyeruput tehnya. "Di ruangan ini, kita semua paham aturan mainnya. Apa yang dibicarakan di sini, tetap tinggal di sini. Kita ini tim yang sama. Bahkan kita sendiri pun sama-sama tidak tahu di mana presisi keberadaan suami kita detik ini."Zahra bernapas lega. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Jakarta, ia merasa punya teman. Mereka mengerti rasa cemas yang sama dan sunyinya menunggu kabar kepulangan suami mereka.Ibu Direktur kembali memandang Zahra, memberikan pesan penting. "Mbak Maulida, nanti kalau ada kegiatan di Bhayangkari Pusat, Mbak tetap ikut ya supaya tidak merasa kesepian di rumah. Tapi ingat, kalau di tingkat pusat, cukup bilang Mas Faisal dinas biasa di Bareskrim. Rahasia dapur tetap rahasia dapur kita.""Siap, Bu. Saya menge
Magbasa pa