"Terima kasih banyak, Tante," balas Zahra tulus. Ia lantas menoleh ke samping. "Om Dewa, Tante Nadia, kenalkan ini Mas Zein, suami saya."Zein mengulurkan tangan, menyalami Dewa dan Nadia dengan ramah. "Zein, Om, Tante."Zahra menerima uluran tangan si Cantik lalu memandang Dewa. "Om, Adam sama Kenzi kok nggak ikut?""Hari ini mereka lagi ada turnamen tenis meja. Makanya nggak bisa ikut. Tadi di anterin sama omnya." Dewa menyebut nama adik iparnya.Mereka berlima lantas duduk melingkar di bawah tenda. Dewa menatap Zahra penuh perhatian. "Om sempat kaget waktu papamu cerita kamu sudah menikah. Gadis kecil yang Om kenal dulu, sekarang sudah mau punya anak."Zahra tersenyum. Ia melihat Dewa tetap awet muda. Istrinya pun begitu. "Kenapa nikah tidak mengabari Om, Ra?""Maaf, Om. "Waktu itu acaranya sangat sederhana. Lagipula Mas Zein harus langsung buru-buru berangkat dinas lagi."Dewa menoleh pada Zein, menatap perwira muda itu. Di mata Dewa, terlihat Zein pria yang sangat baik. "Tidak a
Read more