Di kamar, Zein merengkuh tubuh Zahra erat-erat, mendaratkan kecupan lama di kening sang istri. "Dua bulan lagi, Sayang. Kalian ikut Mas ke Jakarta.""Iya.""Tunggu Mas sampai menjemput kalian."Zahra mengangguk sambil tersenyum tulus, menyandarkan pipinya sebentar di dada bidang Zein. Ia akan menuruti kata bunda dan papanya. Sebab sadar kalau belum sanggup merawat Nuh sendirian di sana tanpa bantuan. Bayinya masih terlalu kecil. Lagipula mengurus bayi baru lahir membutuhkan stamina ekstra.Zein lantas membungkuk di boks bayi, mengelus lembut pipi putranya yang tertidur pulas, lalu menciumnya pelan-pelan. "Papa tugas dulu, ya. Jangan rewel."Akhirnya dengan langkah berat, Zein meninggalkan kamar lalu turun dan menuju kendaraan yang akan mengantarnya ke Bandara. Ia pamitan pada kedua mertuanya. Dan Elvaro yang ikut mengantarkan ke Dhoho.🖤LS🖤Sebulan kemudian kabar bahagia kembali menghampiri keluarga Emir. Aurel di Surabaya mengabari kalau sedang hamil empat minggu. Dia dilanda mabuk
Mehr lesen