"Ibu, maafkan Maria. Maafkan Maria kalau nggak pernah pulang dan ngasih kabar," isak Maria. Suaranya parau di balik kain cadarnya yang kini basah."Ibu nggak pernah marah, Maria," bisik Bu Hasna di sela tangisnya, mengusap punggung Maria dengan kelembutan yang luar biasa. "Ibu dan bapak selalu mendoakanmu."Bu Halimah dan Bu Syarifah ikut menyeka sudut mata mereka dengan tisu, tak kuasa menahan haru menyaksikan semua itu.Maria perlahan melepaskan pelukannya, lalu meraih tangan Pak Ali dan menciumnya dengan takzim dan penuh hormat. Pak Ali menunduk, air mata mengalir di pipinya yang berkerut, tangannya yang gemetar mengusap puncak kepala Maria. "Bapak selalu mendoakanmu, Maria.""Terima kasih, Pak."Melihat bundanya menangis, Ibrahim yang tadi berada di pangkuan Rangga mendadak minta turun. Ia berlari mendekat, lalu memeluk erat kaki bundanya dari belakang. "Bunda, Bunda jangan nangis. A'im takut," cicit bocah itu dengan tubuh gemetar.Rangga yang menyaksikan semua itu merasa hatinya
Read more