LOGINNamun rasa geram campur aduk, antara lelah mengurus dua balita dan kenyataan bahwa ucapan 'aman' suaminya ternyata zonk. Membuatnya ingin sekali menjewer telinga pria di hadapannya ini."Tapi tetap saja aku sebal sama kamu Mas. Mas, selalu bilang tenang saja, aman. Apanya yang aman!" ucap Maria ketus. "Yusuf belum genap dua tahun saat adiknya lahir nanti. Perhatian kita pasti terpecah."Rangga tersenyum hangat, mengecup kening Maria sekali lagi dengan penuh perasaan. "Dengar Mas, Sayang. Yusuf tidak akan kekurangan kasih sayang sedikit pun, Mas jamin itu. Nanti kita tambah pengasuh. Supaya setelah melahirkan, kamu juga punya waktu untuk dirimu sendiri. Mas janji."Maria masih menatap tajam suaminya. Janji mana yang tidak ditepati oleh Rangga semenjak mereka kembali bersama. Lelaki itu selalu memegang ucapannya. Selelah apapun dengan urusan kantor, ia tetap ikut menjaga dan mendidik anak-anaknya.Rasa kesal yang membakar dada Maria sejak pagi perlahan-lahan mulai padam, digantikan oleh
Maria berulang kali mengingatkan, meminta Rangga untuk menggunakan pengaman untuk jaga-jaga. Namun dengan senyum manis yang meruntuhkan pertahanan, Rangga selalu menjawab, "Tenang saja, Sayang. Tidak akan hamil dalam waktu dekat. Mas tahu cara mainnya."Main apa coba? Nyatanya hari ini dua garis merah itu terpampang nyata tanpa bisa dibantah.Saat Maria tengah berdiri melamun dengan dada yang bergemuruh menahan kesal, sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya, disusul sebuah suara hangat yang seketika membuatnya menoleh."Ada apa, Sayang? Melamun di depan jendela pagi-pagi begini?" tanya Rangga yang sudah berdiri di belakangnya. Pria itu tersenyum lebar, tampak segar dengan kaos polo kasualnya. Di lengan kanannya menggendong Yusuf yang sibuk makan biskuit, sementara Ibrahim terdengar bermain di halaman dengan kakak sepupunya.Melihat wajah tanpa dosa suaminya, rasa ingin marah di dada Maria mendadak memuncak ke ubun-ubun. Ia menatap tajam, setajam silet, tepat ke arah bola mata lelaki
MARIA - 78 Rezeki"Nggak apa-apa, Bu," jawab Maria dengan nada suara yang diusahakan sebiasa mungkin. Sementara jemarinya bergerak secepat kilat meraih benda pipih di atas wastafel dan memasukkannya ke dalam saku gamis. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum ingin memberitahu yang sebenarnya."Ya sudah kalau nggak ada apa-apa. Ibu pikir kamu sakit. Wajahmu agak pucat," ujar Bu Hasna sembari memicingkan mata, memandang lekat wajah Maria yang saat itu tidak mengenakan cadar."Saya nggak apa-apa, Bu." Maria tersenyum. Entahlah kali ini ia malu kalau bilang sedang hamil lagi."Kalau gitu Ibu mau belanja dulu." Bu Hasna menepuk bahu Maria lantas melangkah keluar rumah.Maria masih mematung. Yusuf baru umur setahun. Bocah ganteng itu baru bisa berjalan beberapa langkah dengan tertatih-tatih. Dan sekarang di dalam saku gamisnya, sebatang testpack dengan dua garis merah pekat menyatakan bahwa ia sudah berbadan dua lagi. Kasihan Yusuf. Nanti belum genap usia dua tahun, adiknya sudah lahir.Kep
"Perbaiki hubunganmu dengan Tamara. Susul dia ke Blitar. Aku pernah juga bilang padanya, kalau lahiran nanti jangan lupa mengabari. Bagaimanapun anak kalian nanti tetap menjadi saudaranya Dimas dan Dira."Selesai menceritakan semua yang diucapkan Susi, Nino terdiam. Tamara pun sama. Dia merasa malu, Susi bisa selapang dan sebaik itu. Malah menyarankan agar Nino bertanggung jawab dengan anak yang dikandungnya. Memberikan masukan untuk memperbaiki hubungan dengannya. Dulu Maria pun sama. Wanita itu sebenarnya tak pernah mengusik meski Rangga sudah menikahinya. Dia hanya diam menerima takdirnya. Hingga dirinya dan sang mama, yang mulai berani mengusik ketenangan Maria.Mereka orang-orang baik. Makanya tak heran kalau sekarang sudah menemukan kebahagiaannya."Kita perbaiki hubungan ini, Tam. Kita masih suami istri. Mari kita sama-sama berubah dan selalu mengingatkan, jika aku melakukan kesalahan. Semuanya belum terlambat, kan?" ucap Nino dengan suara bergetar tapi penuh harap.Tamara ter
"Baik-baik saja. Alhamdulillah, bayinya kuat dan sehat," jawab Tamara singkat. Ia kemudian bergerak perlahan dan bangkit dari kursinya. "Sebentar, aku buatkan minum dulu."Tepat saat Tamara berdiri, tirai penghubung dalam rumah terbuka. Bu Arsi masuk ke ruang tamu dengan langkahnya yang tertatih dibantu tongkat berkaki empat. Wanita itu terhenti memandang Nino.Nino yang melihat ibu mertuanya spontan langsung bangkit dari duduk. Ia melangkah cepat menghampiri Bu Arsi, lalu meraih tangan kanan wanita tua itu dengan kedua tangannya dan menciumnya takzim. "Ibu, maafkan saya," ucap Nino menunduk di depan Bu Arsi. "Maafkan saya yang baru bisa datang sekarang. Mohon maafkan segala kesalahan dan ketidakmampuan saya, Bu."Bu Arsi hanya diam terpaku di tempatnya berdiri. Air mata perlahan-lahan menetes membasahi pipinya yang keriput. Ia sekarang gampang sekali menangis. Meskipun hatinya dulu dipenuhi amarah pada laki-laki ini, melihat kondisi Nino yang hancur seperti sekarang membuat hatinya m
MARIA- 77 Aku Datang Pintu kemudi terbuka. Seorang laki-laki memakai kaus warna hitam polos dan celana jins pudar turun dari mobil.Tamara seketika tercekat. Jantungnya berdegup kencang. Dia adalah Nino. Laki-laki itu melangkah pelan masuk ke halaman rumah sambil menenteng sebuah goodie bag di tangan kanannya. Tamara memperhatikan penampilan pria yang masih menjadi suaminya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Nino terlihat jauh lebih kurus dan kuyu dibandingkan dengan terakhir kali mereka bertemu di kedai kopi Malang beberapa bulan lalu. Wajahnya yang dulu selalu bersih kini ditumbuhi cambang tipis tak beraturan, tatapan matanya redup, dan tampak sama sekali tidak terawat.Untuk sejenak mereka berdua hanya berdiri terpaku, saling pandang dalam keheningan yang menyesakkan.Nino menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Tamara. Ia menatap perut Tamara yang kini sudah membulat besar di balik daster longgarnya. "Assalamualaikum," ucap Nino dengan suara serak.Tamara merema
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da







