LOGINMaria mengajak Siti untuk pamitan dulu pada Bu Halimah. Setelah itu langsung ke depan. Rangga yang sudah menggedong Ibrahim di samping mobil, tersenyum padanya.Perjalanan menuju rumah kontrakan baru itu hanya memakan waktu beberapa menit saja. Rumah satu lantai berdesain minimalis modern rupanya sudah selesai dibersihkan.Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang masih kosong itu. Lantai granitnya berkilau. Bangunan ini memiliki tatanan yang sangat ideal. Tiga kamar tidur yang cukup luas, satu kamar mandi bersih berkeramik putih, ruang makan yang menyatu tanpa sekat dengan area dapur bersih, serta sebuah ruang tengah yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk meletakkan televisi. Ruang makan sudah ada meja kursinya.Rangga berjalan mendekati Maria yang sedang memperhatikan sudut-sudut ruangan, lalu menyodorkan sebuah buku katalog tebal dari toko furnitur ternama. "Maria, kamu pilih tempat tidur yang kamu mau. Dan apa-apa yang kamu butuhkan. Nanti kupesan dan besok sudah di an
Yang tampak di mata Zein hanyalah keteduhan, ketenangan, dan sebuah bentuk kepedulian murni seorang sahabat. Pria itu benar-benar tulus ikut bahagia melihat Ibrahim bisa hidup dengan layak."Ya Allah, apa pria ini benar-benar nggak punya perasaan khusus pada Aisyah?" batin Bu Halimah heran. Di saat pria-pria lain seperti Pak Rudi datang menggebu-gebu menawarkan hidup enak, atau Tony yang datang membawa restu orang tua, Zein adalah satu-satunya pria yang terlihat paling anteng, paling santai, tapi gerak-gerik dan perhatiannya selama tiga tahun ini begitu konsisten dan dalam pada Maria dan Ibrahim.Padahal ia dan Bu Syarifah sejak tahun kemarin berharap kalau Zein bisa jadian dengan Aisyah. Namun sampai Aisyah bertemu kembali dengan mantan suaminya, pria itu tetap diam. Rasanya mustahil dia tidak ada rasa, tapi kenapa diam saja. Bu Halimah meninggalkan ruangan itu sebelum Zein dan Maria menyadari keberadaannya. "Mas Zein, mau berapa hari di Malang?""Mungkin hanya beberapa hari saja.
MARIA- 32 ZeinGerakan tangan Zein yang sedang merapikan kerah kaus Ibrahim mendadak terhenti. Pria itu terhenyak sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Papa? Siapa papa yang dimaksud oleh Ibrahim?Ada kabar apa di panti ini selama beberapa waktu terakhir dia absen berkunjung?Zein membetulkan posisi gendongannya, membawa Ibrahim duduk di kursi teras kantor yang teduh. "Siapa Papanya A'im?" tanya Zein, berusaha menjaga suaranya."Papa Om Angga," jawab Ibrahim polos, kombinasi panggilan yang terdengar menggemaskan sekaligus janggal karena sebutan 'Om' yang masih ikut disebut.Dada Zein mendadak berdesir aneh, ada rasa hampa yang tiba-tiba menyergap, tapi garis bibirnya tetap memahat senyum ramah yang tulus. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman. Sepi. Anak-anak panti yang lain sepertinya sedang sibuk beraktivitas di belakang. Bu Syarifah dan Bu Halimah pun tak tampak.Siapa Angga? Selama ini Maria tidak pernah menyebut nama itu. Atau dirinya yang memang tidak tahu. Sebab ta
"Hali cabtu?" Sahut Ibrahim. Yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Rangga. Lucu sekali, yang diingat anaknya hanya hari Sabtu.Setelah itu Ibrahim mengizinkan papanya pulang. Rangga pergi dengan langkah berat. Sampai di mobil pun ia masih ingat kamar yang ditempati Maria dan Ibrahim. Ruangan itu memang bersih dan rapi, tapi sangat sempit. 🖤LS🖤Baru saja mandi dan berganti pakaian, ponsel Rangga berpendar. Budi yang menghubungi."Aku di depan rumahmu, Ngga," kata lelaki di seberang setelah Rangga menerima panggilannya. "Iya, aku keluar." Walaupun capek dan ingin segera istirahat, tapi Rangga tetap saja keluar rumah menemui sahabatnya. Sebab Budi yang dimintai tolong oleh Rangga untuk mencarikan orang yang bisa bersih-bersih di rumah yang hendak di kontraknya. Bahkan rumah kontrakan itu pun Budi yang menghubungi pemiliknya. Sebab Budi yang paling paham daerah itu.Rangga membuka pintu dan menyuruh temannya masuk. "Kamu tadi jadi nemui A'im?" tanya Budi setelah duduk."Jadi. Ak
Setelah puas berkeliling dan kaki mulai terasa penat, gurat lelah bercampur lapar mulai tercermin dari wajah kecil Ibrahim. Rangga kemudian mengajak mereka menuju area kuliner. "Maria, kita makan dulu. Aku sudah lapar."Maria mengangguk.Restoran di sana ditata apik dengan konsep modern-industrial, berderet stan makanan lokal hingga internasional yang menyajikan aroma menggoda. Mulai dari bakso malang yang mengepul hangat, jajaran masakan Jepang, hingga wafel manis yang menguar di udara. Saat itu langit Batu mulai menumpahkan gerimis, membuat area kuliner itu menjadi tempat berteduh yang paling diburu pengunjung.Rangga memilih meja bundar di sudut yang agak tenang. "Maria, kamu mau makan apa?""Nasi goreng Taiwan saja, Mas.""Oke. A'im aku pesankan nasi putih dan ikan bakar manis. Dia mau, kan.""Iya," jawab Maria.Akhirnya tak hanya itu saja, Rangga memesan banyak hidangan. Semangkuk bakso urat, dimsum, kentang goreng untuk Ibrahim, serta beberapa cangkir minuman hangat. Rangga mera
MARIA- 31 Bersabarlah Namun pertanyaan itu hanya mengendap di kepala Rudi. Dia tidak mungkin bertanya karena kesannya begitu ikut campur. Adab masih dipegang laki-laki itu. Bukankah ia beruntung jika Rangga tak seberapa peduli, ia punya kesempatan besar memikat hati Maria yang dikenalnya sebagai Aisyah. Memberikan kehidupan yang layak untuk wanita itu dan anaknya.Lalu apa pria ini sudah menikah lagi? Tapi kelihatan begitu perhatian pada anaknya dan Aisyah. Sebagai lelaki, Rudi tentu saja paham dengan arti tatapan itu. Mungkin saja Rangga belum menikah lagi. Bisa jadi masih mengharapkan Aisyah kembali."Maaf, saya tinggal dulu, ya. Ini ponakan saya nungguin," kata Rudi setelah membaca pesan di ponselnya."Iya, Pak Rudi," jawab Maria. "A'im, salim dulu sama Om Rudi dan Mbak Aya."Ibrahim langsung mengulurkan tangannya, kemudian bocah itu dipeluk oleh Aya. Mereka berangkulan dan hampir terjatuh bersama. Untungnya Rangga dengan sigap menahannya. Setelah Aya pun menyalami Rangga dan M
"Setahuku di sana nggak ada nama Maria, adanya Aisyah. Dia salah satu staf di Pradipta. Aisyah itu seorang aktivis perempuan juga. Pernah mendampingi seorang remaja korban pelecehan seksual setahun yang lalu. Dia juga pernah mendampingi seorang wanita yang ingin bercerai karena kasus KDRT." Halim m
Sambil nyetir, Rangga melamun. Merasakan jiwanya yang semakin pahit dari waktu ke waktu. Tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangganya. Tamara bukan perempuan yang seperti ia kenal sewaktu masih pacaran. Dia sosok yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ingat Maria serasa jiwanya kembali dicabik-cabik. Ha
Dulu ia pikir kebahagiaan itu ada pada gairah dan kebebasan bersama Tamara. Tapi ternyata rumahnya terasa hampa. Mereka hanya dua orang yang tinggal di bawah satu atap, tapi jiwanya entah ke mana.Rangga telah mencampakkan berlian demi sekerikil kaca yang kini justru melukai kakinya setiap kali mel
MARIA- 14 Tiga Tahun Kemudian "Isbat nikah tidak perlu resepsi, Ma. Kami akan datang ke KUA sudah cukup sambil membawa persyaratan," jawab Rangga dengan raut wajah gelisah. Dia mulai jengah di dikte."Biar keluarga tahu kalau Tamara sudah menikah.""Keluarga Mama kan sudah tahu semuanya. Saat kit







