Termometer, obat penurun panas, obat sakit kepala. Fix. Ica akan mengingatnya dengan baik supaya lain kali bisa dia taruh di kotak obat. Rumah mereka ada di pelosok, jauh dari puskesmas maupun rumah sakit, Ica tak mau mengambil resiko terjadi seperti ini lagi. “Sejak tadi mas Saka memang jadi lebih pendiam, mbak. Tapi sama sekali tidak mengeluh sakit,” kata Pak Sarmin sambil sesekali melirik Ica yang sedang memeluk Saka di kursi belakang. Tubuh pria itu memang dingin sekali dan mengatakan kepalanya pusing. Semula dia menolak saat Ica mengajaknya ke puskesmas, katanya takut suntik, tapi Ica bisa sangat kerasa kepala jika dia mau. “Sakitnya tadai tak terlalu terasa, baru terasa saat sampai di rumah.” “Itu karena di luar rumah mas malu kelihatan sakit,” omel Ica. “Iya.” “Iya apa?” “Aku salah,” gumam pria itu dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Ica. Ica hanya mampu menghela napas, kalau sudah ngomong maaf begini dia mau marah juga malah seperti orang gila, pad
Read more