“Mas!!” seru Ica. Tanpa basa-basi wanita itu menggamit lengan suaminya yang baru saja bicara dengan pak RT. “Apa?” pria itu menjawab dengan wajah datar sambil melihat tautan tangan Ica di lengannya. “Kan mas yang suruh aku datang, itu aku bawa kue yang dibuat bu Mirah.” Ica berbicara seriang mungkin sambil memperlihatkan tas berisi kue buatan bu Mirah pada suaminya. “Oh,” katanya, tapi pria itu hanya diam saja bahkan mengabaikan panggilan beberapa orang bapak-bapak di pos ronda. “Tuh di panggil, mas,” kata Ica seolah dia tak tahu kalau Saka kesal padanya. Saka sih nggak marah-marah atau mengatakan sesuatu yang buruk atau kasar ya, cukup melihat sorot matanya Ica sudah tahu. Ica memang peka dan perhatian pada orang bukan seperti suaminya yang kalau tidak diguyur air mana dia ngerti ada atap bocor. Bukannya jalan mendekati orang yang memanggilnya, Saka masih diam ditempat menatap tautan tangan mereka. “Ca, lepasin.” Ica menoleh dan menatap suaminya tajam. “Memangnya kenapa, mal
Magbasa pa