Pagi itu, pintu kamar Isabela diketuk pelan."Bela? Kau belum bangun? Sudah jam berapa sekarang, kau tidak kerja?"Isabela tersentak, membuka mata dengan kepala masih berat. "I-iya, Nek, aku bangun!"Ia buru-buru duduk, rambutnya berantakan, dan untuk sesaat dia hanya diam menatap selimut yang menutupi tubuhnya, mencoba mengingat kenapa dadanya terasa seaneh ini."Makanan sudah Nenek siapkan di meja," suara neneknya lagi dari balik pintu. "Nenek harus pergi.""Iya, Nek. Hati-hati."Langkah kaki neneknya menjauh, lalu pintu depan rumah terdengar tertutup.Rumah itu sunyi.Isabela masih duduk di ranjang, matanya jatuh ke sisi kasur yang sedikit berantakan, ke selimut yang tidak dia ingat pernah dia tarik serapi itu semalam. Ingatan semalam datang perlahan, seperti air yang merembes lewat celah, sampai akhirnya dia sadar sepenuhnya apa yang baru saja terjadi."Astaga," bisiknya, menutup wajah dengan kedua tangan.Dia bangkit, berjalan sempoyongan ke kamar mandi kecil, menyalakan keran, m
Read more