Sabtu siang, lonceng kecil di atas pintu butik berdenting pelan.Elena tidak menoleh. Ia sedang membungkuk di atas meja potong dengan jarum pentul terselip di sudut bibir, menandai garis pola pada selembar kain krem yang terbentang selebar meja. Di luar kaca, dua pria berjas hitam berdiri tegak, satu di sisi pintu dan satu lagi di dekat mobil, tidak bergerak sedikit pun sejak pagi."Kalau mau membeli, lihat saja dulu," ujar Elena dengan bibir yang nyaris tidak terbuka. "Kalau mau menumpang menangis, ambil kursi.""Ini aku, Lena."Barulah Elena mengangkat kepala. Jarum pentul itu ia cabut satu per satu dan ditancapkan ke bantalan kecil di pergelangan tangannya. "Aku tahu. Aku hanya ingin memastikan kau datang sebagai yang mana."Isabela tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Ia duduk di kursi pelanggan dekat jendela, menaruh tas di pangkuan dan memeluknya erat.Elena menghilang ke ruang belakang, lalu kembali dengan dua gelas teh hangat. Ia duduk di seberang Isabel
Read more