Lisboa pagi hari berbau roti panggang dan air asin.Isabela terbangun pelan, kesadarannya datang sepotong-sepotong. Suara ombak dari bawah jendela. Tirai putih yang menggembung lalu mengempis ditiup angin laut. Cahaya pagi yang sudah cukup tinggi jatuh pucat di lantai kayu, merayap sampai ke kaki ranjang.Ia menggeliat malas, menarik selimut sampai ke dagu, dan hampir terlelap lagi ketika hidungnya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.Asap. Hangat, pekat, sedikit manis, dengan ujung getir yang terlalu ia kenal.Matanya terbuka.Di ambang pintu balkon, seorang pria berdiri membelakanginya. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Bahunya lebar dan tegak, satu tangan terselip di saku celana, sementara tangan lainnya menahan cerutu yang ujungnya menyala merah di antara dua jari. Di hadapannya Lisboa terhampar di bawah cahaya pagi, atap-atap jingga yang bertingkat sampai ke sungai, kubah putih gereja, dan laut kebiruan di kejauhan. Asap cerutu naik pelan, lalu terbawa angin k
Read more