Isabela membuka mata perlahan. Langit-langit di atasnya asing, terlalu tinggi, terlalu putih, tidak seperti kamarnya yang penuh tempelan foto dan lampu tidur kuning kusam.Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna. Bau seprai ini juga berbeda, wangi kayu cendana bercampur sesuatu yang lebih maskulin, lebih dingin. Kepalanya masih terasa berat, seperti ada kabut yang belum sepenuhnya hilang dari dalam sana.Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Pesta. Cahaya lampu. Suara orang-orang berbincang. Lalu semuanya kosong, seperti halaman yang sengaja disobek dari buku ingatannya.Di mana aku?Ia mencoba bangkit duduk, dan saat itulah nyeri menjalar dari telapak kakinya, tajam, membuatnya meringis pelan. Ia meringkuk sejenak, mengabaikan rasa aneh yang menempel di kulitnya, terlalu longgar, terlalu asing, karena pikirannya cuma dipenuhi satu hal.Aku harus keluar dari sini.Isabela mencoba turun dari kasur. Kakinya menyentuh lantai yang dingin, dan sedetik kemudian tubuhnya limbung
Read more