INICIAR SESIÓNfans elena, enzo mana?~~
Rapat hari itu berlangsung lebih lama dari yang Cane perkirakan. Beberapa kepala divisi masih membahas soal alokasi anggaran kuartal ini sebelum akhirnya rapat itu selesai juga. Ketika akhirnya ia keluar dari ruang rapat, jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu makan siang.Ia melangkah menyusuri lorong menuju ruangannya sendiri, dan seperti biasa, langkahnya berbelok dulu ke arah meja Isabela yang letaknya tidak jauh dari ruangannya. Sepanjang jalan, ia sudah menyiapkan satu dua kalimat jahil di kepalanya, sekadar untuk melihat wajah kesal gadis itu.Namun begitu sampai di sana, kursi itu kosong. Tidak ada tas, tidak ada tanda-tanda Isabela di sana.Cane berdiri sebentar di depan meja itu, menatapnya tanpa ekspresi berarti sebelum berbalik.Mungkin ia sedang makan di kantin lantai tiga, pikirnya, atau mungkin sudah keluar duluan. Ia tidak ambil pusing. Ia menuju lift pribadi, turun ke basement, lalu masuk ke mobilnya sendiri menuju restoran yang biasa ia datangi bersama
Pagi itu, jalanan sudah mulai ramai. Kendaraan berlalu-lalang di jalan utama, sementara beberapa orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.Isabela sudah bersiap seperti biasa. Ia keluar dari rumah dan berjalan menuju depan gang untuk menunggu taksi sebelum berangkat kerja.Namun begitu sampai di depan gang, langkahnya terhenti. Theo berdiri di sana, bersandar santai di sisi mobilnya.Isabela mendekat, kening sedikit berkerut. "Theo, kau buat apa di sini?"Theo memutar tubuhnya menghadapnya, senyum hangat langsung muncul di wajahnya. "Bela. Aku ingin mengantarmu. Boleh?"Isabela tersenyum. "Tentu saja, tapi tumben sekali.""Ingin saja," jawab Theo ringan, membuka pintu mobil untuknya. "Ayo, masuk."Mobil melaju meninggalkan gang. Beberapa menit pertama hening, hanya suara mesin dan udara pagi yang samar dari celah pendingin udara. Isabela memandang keluar jendela, sesekali Theo meliriknya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi urung."Maaf soal kemarin," akhirnya Theo membuka s
Kini, di dalam restoran, mereka bertiga duduk di satu meja. Kedua pria itu saling menatap, seolah jejak permusuhan terlihat jelas di mata mereka, sementara Isabela hanya bisa menatap keduanya dengan bingung, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.Tidak ada yang bicara. Hanya suara ombak samar dari luar jendela dan denting sendok garpu dari meja lain yang mengisi keheningan itu.Isabela membuka menu di tangannya, mencoba mencairkan suasana yang terasa aneh baginya, meski ia tidak tahu persis kenapa. Matanya berpindah dari satu halaman ke halaman lain, kening berkerut pelan. Semuanya terlihat enak. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.Sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, Cane sudah lebih dulu memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. Ia bahkan tidak melirik ke arah Theo yang duduk di seberangnya, seolah kursi itu kosong."Apa makanan unggulan di sini?" tanya Cane, nadanya datar, tanpa basa-basi."Ikan, Tuan," jawab pelayan itu sopan. "Restoran kami memang
Tawa Cane belum benar-benar reda ketika mobil berbelok memasuki gang sempit tempat rumah Isabela berada. Lampu jalan di sana lebih redup, berkedip-kedip malas, tapi cukup untuk memperlihatkan wajah Isabela yang masih merah padam."Sudah sampai," ujar Cane, menghentikan mobil tepat di depan gang. Ia melirik Isabela dari sudut mata, masih menyimpan senyum jahil di ujung bibirnya. "Atau kau masih mau membahas soal punyaku tadi? Kau mau mencobanya lagi? Aku siap kapanpun kau mau.""Diam!" Isabela buru-buru membuka sabuk pengaman, wajahnya semakin panas. "Aku turun sekarang juga.""Secepat itu?" Cane pura-pura kecewa, meski tangannya sudah bergerak mematikan mesin. "Padahal aku baru mau menawarkan diri mengantarmu sampai depan pintu.""Tidak perlu," jawab Isabela cepat, tangannya sudah memegang gagang pintu. "Aku bisa jalan sendiri, cuma beberapa meter."Cane bersandar ke jok, mengamatinya dengan tatapan geli. "Kau selalu buru-buru kalau sudah dekat rumah. Kenapa? Takut aku ikut masuk?"Is
Langit sore mulai berubah jingga ketika Cane duduk di balik meja kerjanya, membaca sisa siaran berita yang baru saja berakhir di layar tabletnya. Foto Heitor Vasconcelos memenuhi layar, berdiri tegap di atas podium dengan setelan jas gelap dan pita merah putih tersemat di dada, lambang Frente Nacional de Segurança dan deretan bendera berjajar di belakangnya.Jenderal Vasconcelos Resmi Diusung partai Frente Nacional de Segurança (FNDS) sebagai Calon Presiden!Cane menggeser layar ke bawah, membaca sekilas paragraf yang membahas acara pengukuhan yang digelar semalam di sebuah gedung konvensi besar di ibu kota, dihadiri ratusan simpatisan dan disiarkan langsung ke berbagai stasiun televisi nasional. Beberapa foto memperlihatkan deretan pejabat duduk di kursi kehormatan, wali kota, sejumlah anggota parlemen, bahkan beberapa nama pengusaha besar yang selama ini dikenal dekat dengan lingkaran militer. Semua tersenyum lebar ke arah kamera, seolah sudah sepakat siapa yang akan mereka dukung se
Pagi itu sinar matahari jatuh cerah di antara gedung-gedung tinggi pusat kota. Sebuah taksi berhenti tepat di depan gedung BRN Corporation. Isabela turun sambil membenarkan tali tasnya, lalu menatap sekilas gedung menjulang di hadapannya sebelum melangkah masuk.Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung menyapa."Pagi, Asisten Isabela.""Pagi, Bela."Isabela membalas semuanya dengan senyum kecil, bahkan sempat menyapa resepsionis yang duduk di meja depan. Tidak ada yang aneh pagi itu, sampai ia berhenti di area lift.Beberapa karyawan sudah berkumpul di sana, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lagi mengobrol pelan sambil menunggu pintu terbuka. Isabela ikut berdiri di antara mereka, sama sekali tidak memperhatikan apa pun selain perutnya yang sejak tadi terasa kosong.Tangannya masuk ke dalam tas, mengeluarkan sebuah roti."Untung masih ada satu," gumamnya sambil membuka bungkusnya perlahan.Namun baru saja roti itu mendekati mulutnya, sebuah tangan tiba-tiba menariknya
Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti
Hari PertamaAlarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sa
Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam
Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny







