“Kenapa?” bisik Felix, senyum tipis masih bertengger di sudut bibirnya. “Kau takut?”Reya yang berada begitu dekat dengannya langsung menatap tajam, meskipun rona merah sudah menjalar sampai ke telinganya. Napasnya sedikit tertahan ketika Felix mencondongkan wajah, tetapi sebelum wanita itu sempat melontarkan protes, Felix lebih dahulu menyentuhkan bibirnya pada bibir Reya dengan sangat lembut.Setiap gerakan bibir Felix, sangat hangat hingga bibir Reya yang kering langsung terasa lembab, juga lidah Felix yang panjang dan liar seakan menyalurkan rasa sakit Reya ke sensasi menggairahkan.Jari-jari Felix kemudian terangkat, menyentuh sisi telinga Reya dengan hati-hati, di sertai ciuman yang awalnya senyap hingga terdengar bunyi bertaut yang membuat Reon mencubit pahanya sendiri.Ujung jari Felix sendiri kini menyelipkan beberapa helai rambut wanita itu ke belakang telinga Reya, sementara tatapannya masih terpaku pada wajah Reya sambil meninggalkan kecupan lebih lama hingga Reya tersenta
Leer más