ANMELDEN"Felix, kau..." lirih Reya dengan napas yang makin memburu.Meskipun mulutnya berusaha memprotes, reaksi tubuh Reya justru bertolak belakang. Kedua tangannya bergerak refleks, mencengkeram erat rambut tebal Felix dan menekan kepala suaminya makin dalam di antara paha meleburnya. Pijatan dan jilatan basah yang makin memabukkan itu menghancurkan sisa kewarasan Reya seketika. Tubuhnya meliuk pasrah di atas ranjang."Ahh... ahh... jangan berhenti, sayang!" desah Reya parau, tak sanggup lagi menyembunyikan dahaga gairahnya.Felix terkekeh kecil di bawah selimut. Dengan sudut bibir yang sudah basah oleh cairan intim istrinya, ia makin mempercepat tempo sedotan dan permainannya, menghisap titik sensitif Reya tanpa ampun."AHHHH!"Jeritan nikmat meluncur dari tenggorokan Reya saat ledakan klimaks yang hebat menghantam seluruh saraf tubuhnya. Paha mulusnya berguncang hebat, menjepit kepala Felix erat-erat sebelum akhirnya terkulai lemas di atas kasur.Dengan napas berat dan bibir yang masih ba
Felix terkekeh kecil, matanya berkilat nakal saat memperhatikan reaksi syok di wajah istrinya yang menggemaskan. Tangannya yang mengunci paha Reya makin merapat, mengusap kulit mulus itu dengan ritme yang memancing getaran halus."Jangan membulat begitu bibirnya, sayang... aku bisa tidak tahan untuk tidak melahapmu sekarang," goda Felix dengan suara berat yang teramat parau.Chittt!"Aww!" Felix meringis pelan saat jemari Reya mendaratkan cubitan keras di lengan tegapnya."Seriuslah!" tegur Reya dengan wajah memerah, berusaha menarik kakinya meski cengkeraman Felix di pahanya masih begitu protektif.Felix mendengus pelan, lalu merengkuh jemari Reya dan menggenggamnya erat. "Aku serius, Reya. Pengenalan Bella sebagai putri keluarga mereka hanya bermodalkan sebuah liontin tua dan gelang emas berukir. Itu sangat mencurigakan. Aku yakin kaulah anak kandung mereka karena aku ingat jelas itu liontin dan gelangmu saat kecil."Mendengar itu, Reya seketika tertegun sejenak. Ia mencoba menginga
Reya segera memutar tubuhnya, menghela napas panjang untuk mengurai gejolak aneh yang sempat singgah di dadanya sesaat setelah berinteraksi dengan Prof. Carlo. Tanpa membuang waktu lebih lama, Reya pun segera naik taksi untuk pulang. Tak butuh waktu lama, Reya pun selamat sampai di rumah kediaman megah milik Wicaksono.Begitu kaki Reya melangkah melewati pintu utama, suasana rumah terasa berbeda…Felix ternyata sudah berada di sana, berdiri menunggunya di dekat ruang tengah dengan kemeja yang sedikit terlipat di bagian lengan. Begitu menangkap sosok istrinya masuk, raut cemas di wajah Felix seketika berganti dengan kehangatan. Pria itu melangkah mendekat, hendak menyambut Reya ke dalam dekapannya."Kenapa kau lambat pulang, sayang?" tanya Felix dengan suara beratnya yang penuh perhatian. "Aku baru saja dari kantormu, tapi orang-orang di sana bilang kau sudah pulang jauh lebih awal."Reya menyetop langkahnya sejenak. Bayangan tentang bagaimana Felix memapah pinggang Bella dengan beg
Reya baru saja hendak mengikis jarak untuk mengejar Felix ketika lengan bajunya ditarik paksa dari samping."Reya! Cepat kemari!" panggil Dihyas panik, menuntunnya menuju ruang radiologi untuk mengambil hasil CT scan adik kandungnya.Kehadiran Reya di Rumah Sakit Grand Medika memang bukan untuk memata-matai suaminya, melainkan karena kabar duka yang ia terima dari Dihyas beberapa jam lalu. Begitu seluruh prosedur hukum dan pemecatan Alex di Henderson Group selesai ditangani Beno, Reya langsung bergegas menyusul Dihyas. Kei ternyata menjadi korban tabrak lari hingga bagian belakang kepalanya terluka parah dan harus dirawat intensif.Reya melirik sekali lagi ke arah koridor tempat Felix memapah Bella. Meski dadanya dihantam rasa panas dan kepala dipenuhi rentetan pertanyaan melihat kemesraan suaminya, Reya memilih menekan semua emosi itu. Ia mengabaikan Felix dan memfokuskan pikirannya pada keselamatan Kei.Beruntung, hasil CT scan menunjukkan tidak ada pendarahan otak yang membahayaka
Reya membeku saat punggungnya makin terhimpit dinding lift. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Hugo tanpa sedikit pun rasa takut, melainkan menyiratkan peringatan yang teramat dingin."Jangan salah paham, Tuan Hugo," bisik Reya tegas. "Aku berdiri di sini bukan untuk kau goda."Hugo terkekeh rendah, mengikis jarak hingga embusan napasnya yang hangat membakar kulit leher Reya. Mata kelam sang CEO itu bergulir turun, menggigit pelan ujung bibir bawahnya sendiri seraya menatap bibir ranum Reya yang masih sedikit bengkak. Sensasi aura intim itu begitu pekat, namun Hugo tahu batasnya. Ia perlahan menjauhkan tubuhnya saat pintu lift terbuka."Aku tidak akan ingkar janji kemarin," gumam Hugo dingin sebelum melangkah keluar.Reya pun langsung menarik napas dalam-dalam, dan segera ke ruang kerjanya mengabaikan sikap Hugo yang ia anggap biasa saja sebagai sikap klasik seorang playboy.Begitu sampai di ruang kerjanya, Reya mengunci pintu dari dalam. Dengan jemari bergetar, ia buru-buru me
Melihat jejak-jejak cupang di sekujur tubuh Felix, wajah Reya menyala membara. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Reya buru-buru menyambar selimut tebal dan menariknya hingga menutupi seluruh kepala, mengutuk dirinya sendiri dari balik kain sutra itu."Sialan... Mabuk benar-benar membuatku terlihat bodoh!" erang Reya tertahan, merutuki keberanian liarnya semalam yang kini tercetak nyata pada dada dan leher tegap Felix.Tawa kecil yang berat dan penuh kemenangan lolos dari tenggorokan Felix. Pria itu menindih tubuh Reya dari atas selimut, lalu menyibak kain itu secara perlahan. Wajahnya yang basah menunduk rendah, meneteskan sisa air mandi tepat di atas dada mulus Reya yang menyingkap."Terlihat bodoh?" bisik Felix dengan nada nakal yang amat meremangkan. "Semalam kau tidak terlihat bodoh sama sekali, Reya. Kau bertingkah seperti wanita liar yang haus belaian, menggoyangkan pinggulmu di atasku dan menuntutku untuk memuaskanmu tanpa ampun. Kau bahkan menggigit bibirku sampai robek.""Fel
Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le
Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.Pria itu bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit
Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme
Ternyata yang masuk adalah Direktur rumah sakit yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Seketika cengkeraman Felix mengendur. Reya memanfaatkan celah itu untuk berdiri cepat sambil menarik napas tajam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara pipinya masih terasa panas karena kedek







