INICIAR SESIÓNAra menatap nampan kosong di depannya, menarik napas panjang, dan perlahan menegakkan punggung. Ia mencoba menyusun pikirannya. Di satu sisi, Dion perjodohan yang ia tahu akan membawanya pada rasa sakit lama. Di sisi lain, Elvano pria yang misterius, tegas, dan dominan, menawarkan jalan keluar dari masalahnya, tetapi dengan harga yang sama besar, menikah dalam perjodohan kontrak.“Ini… tidak mudah,” gumam Ara, suaranya hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Ia menekankan satu hal di hatinya, apapun yang terjadi, ia harus tetap rasional.“Aku harus berpikir dengan kepala dingin. Tidak ada perasaan yang boleh mengacaukan keputusan ini.”Elvano mengamati setiap gerakan Ara. Ia tidak tersenyum, tidak tergesa, hanya diam, seakan menunggu Ara menemukan jawaban sendiri. Namun ada aura yang jelas, tawaran itu bukan sekadar lelucon atau main-main. Ini adalah ultimatum yang serius, dan hanya Ara yang bisa menentukan hasilnya.Ara menatap pria itu sekali lagi, matanya menembus tatapan Elv
Ara menutup pintu kamar dengan cepat, mengunci rapat. Nafasnya masih tersengal, dada berdegup kencang, dan pipinya memerah karena rasa malu yang baru saja ia alami. Matanya menatap handuk yang tergantung, lalu nampan sarapan yang dibawa Elvano, masih hangat di meja samping ranjang. Aroma roti panggang dan jus jeruk menguar, namun pikirannya masih kacau oleh detik-detik ketika ia panik di depan pintu dan menerima handuk dari pria itu.Ia menepuk-nepuk wajahnya sendiri, menarik napas panjang.Ara… ingat, kalian hanya rekan kerja. Hubungan profesional, titik. Bisik hati kecilnya itu menegaskan satu hal, tapi tidak menghapus sisa rasa aneh yang bersemayam di dadanya.Ara mengganti pakaian dengan cepat, croptop berwarna krem dan celana longgar. Rambutnya masih setengah basah di ujung, ia mengikatnya seadanya. Duduk di pinggir ranjang, ia mulai menyuap sarapan yang dibawa Elvano. Setiap gigitan terasa hangat dan menenangkan, namun pikirannya tetap melayang ke momen canggung tadi.Meski hat
Dion meninggalkan mansion keluarganya tanpa memberi penjelasan apa pun. Mobilnya melaju menembus malam, berhenti di sebuah apartemen yang sudah terlalu familiar baginya.Clara membukakan pintu dengan senyum yang ia hafal luar kepala.“Tumben,” ujar Clara sambil memeluknya. “Kamu biasanya tidak datang selarut ini.”Dion tidak menjawab. Ia langsung menarik Clara masuk dan menutup pintu dengan keras.Malam itu berlalu tanpa banyak kata.Ketika semuanya usai, Clara berbaring di samping Dion, memperhatikan wajah pria itu yang sejak tadi menatap langit-langit dengan rahang mengeras. Tidak ada senyum puas, tidak ada kehangatan, hanya kegelisahan yang jelas terbaca.“Kamu kenapa?” tanya Clara pelan.“Dari tadi kelihatan seperti orang mau meledak.”Dion menghela napas panjang, lalu tertawa singkat tanpa humor.“Ada yang mencoba merebut sesuatu yang seharusnya jadi milikku.”Clara menoleh.“Ara?”Dion menatapnya.“Ya.”Clara bangkit setengah duduk.“Bukannya orang tuanya sudah setuju dengan per
Pintu utama mansion tertutup dengan bunyi berat yang menggema di ruang tamu.Keheningan jatuh, bukan keheningan yang tenang, melainkan menekan.Ara masih berdiri kaku. Napasnya terasa pendek, dadanya naik turun tidak beraturan. Tangannya perlahan mengepal, seolah baru sekarang tubuhnya menyadari apa yang baru saja terjadi.Ratih memecah diam lebih dulu.“Ara…”Ara menoleh. Wajah mamanya campuran antara khawatir, bingung, dan kecewa.“Apa yang kamu lakukan barusan?” suara Ratih pelan, tapi tajam.Ara menelan ludah.“Aku hanya jujur, ma.”Hendra berdiri dari kursinya, wajahnya keras.“Kamu sadar apa konsekuensi dari apa yang baru saja terjadi?”Ara mengangguk.“Aku sangat sadar, pa.”“Lalu kenapa tetap kamu lakukan?” suara Hendra meninggi sedikit.Ara menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar rapuh.“Karena aku sudah lelah, pa. Aku sudah mencoba menuruti semua keinginan kalian. Tapi kali ini tidak, ini hidupku.”Ratih memejamkan mata sejenak.“Kamu memp
Ara melangkah keluar melewati gerbang mansion tanpa menoleh. Pak Maman sempat memanggil, namun Ara hanya mengangkat tangan sekilas. Langkahnya terus menjauh, menyusuri jalan kecil hingga mencapai jembatan tua yang membentang di atas sungai.Gerimis turun perlahan.Ara berhenti tepat di tengah jembatan. Ia menunduk, melepas sepatunya, lalu berjalan kepinggir menatap pembatas besi yang dingin. Di bawah sana, air sungai mengalir deras, menghantam batu-batu dengan suara yang konstan seolah tidak peduli pada siapa pun yang berdiri di atasnya.Ara menatap ke bawah lama.Kenapa aku selemah ini?Kenapa aku tidak pernah benar-benar bisa menentang orang tuanya?Aku sudah mencoba segalanya. Membantah, menolak, berdebat, bahkan kabur ke Eropa. Tapi yang ia dapatkan bukan kebebasan, melainkan kesalahan lain.Ara memejamkan mata.Malam itu.Hotel di Yunani.Elvano.Sudah satu bulan lebih berlalu, tapi ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Dadanya mengencang saat satu pikiran menyusup, dingin
Keesokan harinya, pagi di mansion Paramita terasa berbeda.Deru mobil hitam berhenti di halaman. Hendra turun lebih dulu, diikuti Ratih. Wajah keduanya tampak lelah setelah perjalanan panjang, namun sorot mata mereka tetap tajam penuh perhitungan.Bi Inah menyambut dengan senyum lega.“Selamat datang, Tuan, Nyonya.”Ratih mengangguk singkat.“Ara sudah di rumah Bi?”“Sudah, Nyonya. Masih di kamar.”Hendra menanggalkan jasnya, berjalan ke ruang tamu.“Kita bicara nanti. Panggil dia.”Tak lama kemudian, Ara turun. Wajahnya terlihat tenang, namun ada garis tipis kelelahan yang sulit disembunyikan.“Kalian sudah pulang,” katanya.Ratih menatap putrinya lama.“Kami dengar ada insiden di kantor.”Ara menegang sepersekian detik. “Insiden?”“Dion datang tanpa izin,” sela Hendra. “Dan membuat keributan.”Ara menatap ayahnya.“Itu urusan pribadiku pa.”Hendra duduk, menyilangkan kaki. “Urusan pribadi menjadi urusan keluarga kalau menyentuh reputasi.”Ratih melangkah mendekat, suaranya lebih lem
Sesampainya di mansion, suasana terasa sunyi, sebuah keheningan yang dingin dan menusuk. Ara melepas blazer-nya dengan gerakan lelah, membuang napas berat. Ia mengharapkan sebuah ucapan selamat dari orang tuanya. Namun, nihil. Tidak ada sambutan, tidak ada suara. Hanya keheningan.Ia melangkah perl
Elvano kembali duduk di kursinya, mengambil posisi ternyaman. Proyek villa mewah itu. Ia berpikir tentang Ara, kontras antara Ara di Eropa, bebas dan liar dengan Ara kepala arsitek yang ia temui tadi dalam keadaan pucat pasi.Elvano menyukai fakta bahwa ia memiliki kekuatan untuk meruntuhkan perisa
Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup prope
Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mat







