LOGINMentari pagi menyusup melalui celah gorden sutra yang megah, menyinari kamar pengantin yang masih menyisakan aroma bunga lili dan parfum mahal. Bagi dunia luar, kamar ini adalah saksi bisu penyatuan dua dinasti bisnis besar. Namun bagi Arabella, kamar ini tak lebih dari sebuah sangkar emas yang baru saja ia tempati.Ara mengerjapkan mata, merasakan beban berat yang menindih perutnya. Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, ia membeku. Sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuhnya hingga tak ada celah di antara punggungnya dan dada bidang pria di belakangnya.Elvano Narendra Adhitama. Suaminya—setidaknya di atas kertas.Ara menunduk, melihat jemari panjang Elvano yang kontras dengan warna kemeja hitam kebesaran yang ia pinjam semalam. Rasa canggung menyergapnya. Mereka menikah karena kesepakatan keluarga, sebuah transaksi yang dibalut dengan gaun putih dan janji suci di altar. Cinta? Itu adalah variabel yang tidak ada dalam persamaan mereka."Sudah bangun?"Sua
Hari yang dinanti akhirnya tiba.Langit pagi tampak cerah, seolah ikut merayakan hari bahagia yang telah lama dipersiapkan. Area Venue dipenuhi rangkaian bunga putih dan pastel, lampu kristal berkilau, serta deretan kursi tamu yang tertata rapi. Musik lembut mengalun, mengiringi langkah para tamu undangan yang hadir dengan wajah penuh senyum.Ara berdiri di ujung lorong, mengenakan gaun pengantin yang beberapa hari lalu ia dipilih bersama Elvano. Gaun itu jatuh sempurna di tubuhnya, anggun, lembut, dan tidak berlebihan. Tangannya sedikit bergetar saat Papa Hendra menggenggamnya erat."Kamu cantik, nak" bisik Papa Hendra pelan."Dan Papa bangga padamu."Ara tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk. Saat musik berubah, ia melangkah maju perlahan, menapaki lorong menuju altar. Pandangannya sempat tertuju pada Elvano yang berdiri menunggunya. Pria itu tampak rapi dan tenang, namun tatapan matanya mengunci Ara seolah dunia di sekeliling mereka lenyap.Ketika Ara tiba di sisinya,
Suasana kantor Paramita Group siang itu sebenarnya berjalan normal. Ara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop sambil menandatangani beberapa dokumen yang baru saja dikirimkan oleh tim keuangannya.Ia mengenakan blazer krem dengan rambut terurai rapi, penampilan profesional yang mencerminkan posisinya sebagai putri pemilik perusahaan sekaligus sebagai kepala arsitek.Ketukan pintu terdengar cepat, disusul langkah tergesa.“Nona Ara,” Julian, asisten pribadi Papa Hendra, masuk dengan wajah sedikit panik.“Ada tamu yang lancang, saya sudah berusaha mencegah, tapi dia memaksa masuk.”Ara mengangkat wajahnya.“Siapa, Julian?”Julian menelan ludah.“Kania Elara.”Nama itu membuat Ara berhenti menulis. Dia tau Kania siapa, seorang model high-fashion. Ia menatap Julian beberapa detik, lalu menghela napas pelan.“Tidak apa-apa,” katanya tenang.“Izinkan saja dia masuk.”Julian terlihat ragu, namun tetap mengangguk.“Baik, Nona.” Ia mundur perlahan dan menutup pintu.Beberapa detik
Keesokan paginya, Ara dan Elvano tiba di sebuah butik pengantin eksklusif di pusat kota. Bangunan itu didominasi kaca besar dengan interior bernuansa putih gading dan emas lembut. Begitu mereka melangkah masuk, seorang konsultan butik menyambut ramah dan langsung mempersilakan Ara untuk melihat deretan gaun yang tergantung rapi.Elvano berdiri beberapa langkah di belakang Ara, kedua tangannya masuk ke saku celana.“Coba satu per satu,” ujarnya santai.“Aku mau lihat mana yang paling cocok.”Ara mengangguk, lalu mengambil gaun pertama. Gaun itu sederhana, potongannya klasik dengan renda tipis. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari ruang ganti.Elvano menatap sekilas, lalu menggeleng kecil.“Terlalu… aman,” katanya jujur.Ara mendengus pelan.“Ini namanya elegan.”Gaun kedua membuat Ara mengernyit begitu bercermin. Bagian dada terlalu rendah, punggung terbuka lebar. Saat ia keluar, Elvano langsung mengalihkan pandangan, lalu menghela napas.“Yang ini… terlalu berani,” katanya singkat.
Tekanan itu tidak datang dalam bentuk teriakan atau tuduhan langsung.Ia datang pelan lewat tatapan, bisikan, dan jeda yang semakin sering.Ara merasakannya setiap kali keluar rumah. Senyum orang-orang yang terlalu ramah. Pertanyaan yang terdengar ringan tapi menusuk.“Kamu bahagia, kan?”“Elvano orangnya protektif sekali, ya?”“Kalian sudah tinggal bersama?”Ara selalu menjawab dengan senyum.Senyum yang terlatih.Senyum yang melelahkan.Malam itu, Ara duduk di ruang keluarga mansion. Lampu temaram, televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton. Ponselnya tergeletak di meja, layar menghadap ke bawah, ia sengaja menjauhi dunia.Ketukan pintu terdengar.Elvano masuk dengan langkah tenang. Namun dari sorot matanya, Ara tahu—ada sesuatu yang berat.“Kamu kelihatan lelah, Ara.” ucap Elvano pelan.Ara mengangguk.“Sedikit.”Elvano duduk di seberangnya.“Ara… hari ini ada dua orang media yang mencoba masuk ke area mansion.”Ara menegang.“Apa?”“Aku sudah minta keamanan menanganinya,” lanjut
Pagi itu, Ara terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh getaran ponselnya yang tak henti berbunyi.Satu pesan masuk.Lalu dua.Lima.Puluhan.Ara mengernyit, bangkit setengah duduk dan meraih ponselnya di meja samping ranjang. Begitu layar menyala, napasnya tercekat.Notifikasi media sosial.Pesan dari relasi keluarga.Panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.Tangannya sedikit gemetar saat membuka salah satu berita yang dikirim Naya.“KABAR BAHAGIA! Elvano Narendra Adhitama Resmi Melamar Arabella Saskia Paramita”Di bawah judul itu, terpampang foto dirinya dan Elvano di tepi pantai malam itu. Siluet mereka, cahaya lilin, meja makan yang romantis, semuanya tampak seperti kisah cinta sempurna.Padahal Ara tahu… kenyataannya jauh lebih rumit.“Astaga…” gumamnya pelan.Ia menggeser layar ke bawah. Komentar demi komentar bermunculan.Serasi sekali!Ara beruntung banget!Akhirnya Elvano menikah juga!Semoga langgeng!Namun di antara ucapan selamat, ada pula komentar yang membuat dada
Mentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mat
Pesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh
FLASHBACK ONAra memejamkan mata di tengah dentuman musik Trance yang memekakkan telinga di club tepi tebing Santorini. Sudah tiga minggu ia berada di sini, melarikan diri dari Jakarta dan dari cincin yang disiapkan oleh orang tuanya untuk menjodohkannya. Ia minum terlalu banyak malam ini. Ia butuh
Disisi lain..Elvano Narendra Adhitama, pria yang akan memasuki kepala tiga tersebut terbangun dengan rasa pusing yang menghantam kepalanya. Dia melihat ke sekeliling kamar dan meraba tempat disebelahnya.Tempat tidur king size itu terasa terlalu lapang. Ia terbiasa tidur sendiri, tetapi malam yang







