Srek... Srek...Badru mengayunkan sapu lidi di lantai tanah kandang. Butir-butir keringat membasahi pelipis dan dadanya yang liat. Matahari makin tinggi, membuat hawa di dalam kandang terasa gerah.Whuushh!Angin lewat membawa bau manis dari leher Badru.Glek!Jakun Badru naik turun kaku.'Sialan, tiap kali badan panas dan keringetan, wangi minyak ini langsung keluar lagi,' batin Badru kesal."Dru!" teriak Mang Jaka dari pintu samping sambil menenteng ember seng.Badru menoleh. "Iya, Mang?""Urusan kandang udah kelar semua," kata Mang Jaka seraya meletakkan embernya. "Abah pesan, sebelum bedug kamu anter satu karung pupuk kandang kering ke kebun pisang belakang. Habis itu langsung istirahat, ambil makan siang di dapur sana.""Siap, Mang. Sekarang saya angkut.""Santai aja, Dru, gak usah buru-buru," Mang Jaka menepuk bahu tegap Badru sambil tertawa. "Biar kuli angon, perut tetap kudu kenyang."Badru cuma tersenyum tipis.Bruk!Badru mengangkat karung goni ke pundak kirinya dengan mudah
Baca selengkapnya