Badru menepis tangan Mang Jaka dari perut sapi dengan gerakan cepat. Wajahnya dipasang sedingin mungkin, meski jantungnya di dalam dada berdegup kencang bagai ditumbuk alu."Jangan ngaco, Mang!" cetus Badru tegas, matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Saya ini cuma kuli angon. Mana paham saya sama urusan pusaka, gaib, atau minyak Kencana-Kencana begitu!"Mang Jaka memicingkan mata, menatap Badru penuh selidik. "Tapi bau di badanmu ini beneran beda, Dru...""Ya jelas beda, orang saya belinya minyak loakan murah!" potong Badru cepat, memotong kalimat Mang Jaka sebelum pria tua itu makin ngelantur. "Mungkin racun rumput di ladang bawah yang kepotong sama saya tadi pagi. Atau ada ulat beracun yang ketelan sama sapi-sapi ini. Gak usah dikait-kaitin sama hal mistis!"Glek!Jakun Badru naik turun menelan saliva. Dalam hati, Badru merutuki nasibnya yang harus berpura-pura bodoh di depan Mang Jaka.'Sialan... Mang Jaka ternyata peka banget,' batin Badru, dadanya bergemuruh hebat. 'Kalau sampa
Read more