Badru menghembuskan napas berat. Matanya melirik daster robek Binar yang makin tersingkap, memperlihatkan pahanya yang mulus beradu dengan lebam kebiruan. Rasa kasihan dan gairah lelakinya beradu hebat di dalam dada."Aduh, Teh... Bukan masalah repot atau enggaknya," sahut Badru pelan, mencoba menarik napas dalam-dalam. "Gubuk saya ini kecil, cuma ada satu bale-bale bambu. Masa Teteh mau tidur di sini?""Gak apa-apa, Mas! Tidur di lantai semen juga saya ikhlas," potong Binar cepat. Matanya yang sembap menatap penuh kepasrahan. "Asal sama Mas Badru... saya merasa aman banget di sini."Whuushh!Bau wangi keemasan dari leher Badru berembus makin manis, menyelimuti mereka berdua di belakang gubuk yang remang.Binar memejamkan mata sejenak, menghirup aroma itu dalam-dalam. Rasa takut akibat amukan suaminya perlahan tergerus, berganti desiran panas yang merayap di ulu hatinya. Jemari Binar yang semula mencengkeram pinggang Badru perlahan melonggar, berubah menjadi usapan halus di kulit peru
Read more