Srek...Badru berdiri tegap dari kursi kayu kecil, merapikan sarung kusam yang melilit di pinggangnya. Matanya melirik ke arah sudut gubuk, tempat lampu minyak tempel tergantung kaku di dinding bambu."Hari sudah mau gelap," kata Badru rendah, suaranya memecah keheningan gubuk. "Saya nyalakan lampu minyak dulu, Teh.""Biar saya aja yang nyalakan, Mas Badru," potong Binar cepat. Ia melangkah mendekat tiga tapak, mengambil korek kayu di atas meja dengan jemari lentiknya.Set!Binar menyulut korek api, lalu mendekatkannya ke sumbu lampu tempel. Pendar cahaya kekuningan seketika merekah pelan, menerangi ruangan gubuk yang sempit. Cahaya remang-remang itu memantul indah di pipi mulus Binar, memperlihatkan raut cantiknya yang makin segar dan penuh kepasrahan.Glek!Jakun Badru naik turun kaku sewaktu menatap lekat-lekat wajah Binar dari jarak cuma dua jengkal. Posisinya berdiri berdekatan di tepi meja kayu membuat bayangan tubuh mereka menyatu di dinding bambu."Gimana lebam di pipi Teteh?"
Read more