Langkah Badru berdebuk berat menapaki jalan setapak desa. Matahari pagi merayap naik, tapi udara masih terasa dingin. Pikirannya kusut.Di pinggir jalan, Bu Imas melintas membawa bakul sayur. Wanita paruh baya itu mendadak menghentikan langkah begitu Badru lewat. Hidungnya kembang kempis, lalu senyumnya mengembang lebar.'Sialan. Ini minyak beneran bikin risih,' batin Badru, rahangnya mengeras.Beberapa hari pakai minyak loakan itu, hidupnya berubah jadi aneh. Semuanya gara-gara botol kaca segi delapan di kamarnya. Ancaman di mimpi semalam masih terngiang jelas. Malam bulan purnama nanti, dia harus datang menemui sosok iblis itu. Kalau menolak, orang-orang di kampungnya bakal jadi tumbal.Badru mempercepat langkahnya. Pematang sawah terbentang di hadapannya, mengarah langsung ke kandang sapi milik Abah Haji Sodiq.Brak!Badru mendorong pintu gerbang kayu kandang sapi. Bau kontras kotoran hewan langsung menusuk hidung. Di dalam, Mang Jaka sedang memegang serok, membersihkan lantai seme
Read more