Badru menerima piring seng itu, lalu duduk di atas bangku kayu panjang dekat meja makan dapur. Uap mengepul dari nasi goreng porsi kuli di depannya. Tanpa babibu, ia langsung menyendok nasi hangat itu ke dalam mulutnya.Nyam! Nyam!"Dru, asli ya, semalam itu kacau pisan di rumah depan," buka Merpati sambil ikut duduk di bangku seberang meja. Kedua tangannya menopang dagu, menatap Badru yang sedang mengunyah lahap. "Abah Haji sampai gebrak meja. Katanya cowok kota itu cuma modal tampang sama asal-usulnya gak jelas. Lilis beneran buta banget sampai mau diajak kabur."Badru hanya manggut-manggut seadanya, menyuap sesendok telur dadar tebal. "Oh, gitu.""Ih, kok tanggapannya cuma gitu sih?" Merpati mengerucutkan bibirnya yang ranum, membuat daster kaos putihnya sedikit terangkat di bagian dada karena posisi badannya yang condong ke depan. "Padahal seisi kampung lagi heboh, Dru. Tapi ya syukurlah kalau kamu gak sedih. Malah kelihatan makin segar. Kamu beneran gak kepikiran Lilis lagi kan?"
Baca selengkapnya