"Badru, coba dengerin Amang," suara Amang Jaka memecah keheningan kandang.Amang Jaka menaruh garpu besinya. Pria tua itu menatap Badru tajam."Amang gak maksud nakut-nakutin kamu, Dru. Amang ngomong begini ya karena sayang dan peduli sama kamu. Kita ini cuma kuli, sama-sama nyari sesuap nasi dari keringat sendiri di kandang ini. Jangan sampai kamu merasa sudah hebat terus ikut campur urusan Abah Haji Sodiq, apalagi urusan anak perempuannya. Itu urusan orang gedean, Dru, licin buat orang kecil kayak kita. Sekali kepeleset, bukan cuma kehilangan kerjaan, nyawa juga bisa melayang."Badru terdiam. Rahangnya mengeras. Pandangannya turun ke lantai kandang yang lembap.'Sial, omongan Amang Jaka bener-bener nusuk. Tapi hawa di tubuh saya ini rasanya mau meledak terus, bawaannya mau nginjek orang yang macam-macam,' batin Badru, menahan gejolak panas di dadanya."Iya, Mang, saya paham," sahut Badru pelan. Suaranya berat. "Saya cuma gak tega aja lihat yang gak beres di depan mata."Plak!Amang
Baca selengkapnya