Badru mencengkeram celana kolornya kuat-kuat. Pelipisnya basah oleh keringat dingin. Di dalam sana, si Jono benar-benar mengamuk, menegang maksimal sekeras linggis hingga terasa ngilu bergesekan dengan kain kasar."T-Teh... Ada perlu apa nyuruh saya ke kamar?" tanya Badru dengan suara terputus-putus. Matanya dipaksa menatap dinding putih kusam.Laras mendesah berat, memegangi dadanya yang menyembul padat dari balik daster merah marun. "Gini, Dru... Teteh mau minta tolong pisan.""Minta tolong apa, Teh? Kalau angkat beras atau benerin genteng, saya siap."Laras menggeleng. Ia bangkit, membuat daster tipisnya bergoyang memperlihatkan lekuk pinggul yang berisi. "Bukan itu. Pompa ASI yang kamu beli kemarin ternyata rusak, pecah di dalem. Gak bisa dipakai.""Hah? Rusak, Teh? Waduh, maaf pisan.""Udh gak apa-apa. Tapi masalahnya... dada Teteh sekarang bengkak pisan, Dru. Sakit, cenat-cenut dari subuh karena air susunya penuh," keluh Laras sambil meringis. Jemari lentiknya meremas gundukan d
Terakhir Diperbarui : 2026-06-15 Baca selengkapnya