Tanpa mengalihkan tatapan pemujaannya, Edgar membopong tubuh Selina dengan amat cekatan dan perlahan.Pria tegap itu memindahkan sang istri ke atas sofa empuk berukuran raksasa di tengah ruangan, sofa berbalut kain beledu yang telah dilapisi selimut sutra dan karpet bulu tebal.Perut buncit Selina yang membulat sempurna tersangga dengan nyaman di antara tumpukan bantal busa.Edgar merendahkan tubuhnya, berlutut di antara kedua kaki Selina. Sorot mata elangnya membara oleh pendar gairah yang amat pekat, memadukan kebuasan hasrat dan kelembutan cinta murni."Edgar..." bisik Selina lirih, jemari halusnya merayap naik, melingkar kaku di tengkuk tegap suaminya.Edgar tidak menjawab dengan kata-kata. Pria penguasa itu memajukan wajahnya, mendaratkan ciuman yang teramat pekat, hangat, dan dalam di atas bibir Selina.Penyatuan bibir itu menuntut lembut, saling mempagut dan meresapi rasa manis manis yang melumer di antara belaian lidah mereka.Desah napas Selina tertahan pelan, dadanya kempas-
Leer más