"Edgar, lihatlah bagaimana cincin berlian ini melingkar sempurna di jari manisku," bisik Selina seraya memandangi jemarinya di bawah pendar cahaya lampu rooftop.Edgar mengusap lembut punggung tangan Selina, menatap mata wanita itu dengan pendar kasih sayang yang teramat pekat."Cincin itu memang diciptakan khusus untuk melengkapi dirimu, Selina," sahut Edgar dengan suara bariton hangat."Aku masih merasa seperti bermimpi bisa berdiri di sini bersamamu," tutur Selina seraya menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Edgar.Momen lamaran yang teramat manis dan penuh kehangatan itu memicu kepenuhan emosional di dalam dada Selina saat ini."Ini bukan mimpi, Selina, ini adalah kenyataan baru yang akan kita jalani bersama," tegas Edgar penuh kepastian."Dulu aku selalu dibayangi rasa takut dan keraguan yang amat menyiksa," aku Selina seraya menatap lurus ke dalam mata elang Edgar.Selina menyadari bahwa seluruh rasa takut, keraguan, dan trauma masa lalunya telah terkikis habis oleh konsistensi
Read more