Bau antiseptik menyengat memenuhi udara dingin di dalam ruang bersalin utama. Di bawah sorotan pendar lampu operasi yang terang benderang, Edgar duduk berlutut di sebelah kiri kepala Selina.Pria penguasa bursa saham itu telah mengenakan jubah hijau steril dan masker medis, namun keangkuhan serta aura dinginnya telah menguap sepenuhnya.Tangan tegapnya yang biasa memaraf transaksi triliunan rupiah kini gemetar hebat, menggenggam erat telapak tangan Selina yang membasah oleh peluh dingin.Selina memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya kempas-kempis memburu. Rambut cantiknya lepek menempel di dahi akibat keringat yang terus mengucur deras."Nyonya Selina, dengarkan instruksi saya," ujar Dr. Arisandi tegas di ujung ranjang tindakan, memosisikan diri di antara kedua kaki Selina."Pembukaan sudah lengkap sepuluh! Saat kontraksi berikutnya datang, tarik napas dalam-dalam, tahan di dada, lalu mengejan dengan kuat ke arah bawah!""Edgar... ahh... Sakit sekali..." rintih Selina dengan suara se
Read more