Edgar Anderson—seorang CEO konglomerat bernilai miliaran dolar yang biasanya berdiri di balik meja kaca megah untuk mengatur pergerakan bursa saham global, kini terpaksa berlari-lari kecil di atas pasir pantai yang lembut dengan raut wajah yang amat sangat serius.Ia melakukan itu semua hanya demi mengejar seekor burung camar lokal yang bertubuh gemuk dan menatapnya penuh tantangan dari atas batu karang.Burung itu seolah paham bahwa targetnya adalah seorang miliarder, sehingga ia sengaja mematuk-matuk topi pantai bertepi lebar milik Selina dengan pongah setiap kali Edgar mendekat."Hei, burung bodoh, kembalikan topi istriku sekarang juga!" ancam Edgar dengan suara bariton beratnya yang biasa membuat para direktur perusahaan merinding ketakutan.Burung camar itu justru mengepakkan sayapnya ribut, mencabik sedikit pita hiasan topi tersebut, lalu terbang rendah melintasi ombak.Edgar menggeram pelan, melangkah dengan kepalan tangan erat, hingga akhirnya ia melempar sebuah kerikil kecil
Mehr lesen