Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara bariton yang berat dan dalam memecah kesunyian, membuat jantung Selina mencelos hingga ke lambung.“Belum tidur, Selina?”Selina tersentak hebat, lalu tubuhnya berputar cepat ke arah sudut ruangan di mana sebuah mini bar bernuansa kayu gelap berada. Di sana, di atas salah satu kursi tinggi, duduk Edgar Anthony.Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang kancing teratasnya sudah terbuka, yang berhasil memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Di bawah temaram lampu gantung mini bar, siluet wajah Edgar tampak begitu tegas, dingin, dan mengintimidasi.Selina meremas ujung kaus tidurnya yang longgar, mencoba menguasai rasa gugup yang mendadak menyerang. “A-apa yang sedang Paman lakukan di sini?” t
Last Updated : 2026-06-10 Read more