Matahari pagi menembus celah gorden sutra tebal di lantai dua ruang kerja utama kediaman Vance. Ruangan bernuansa kayu mahoni tua itu dipenuhi aroma kopi hitam pekat yang membubung tipis dari cangkir porselen di atas meja kerja. Ethan duduk tegak di kursi kulit hitam berkulit tebal, menatap tumpukan berkas laporan keuangan yang sudah ditandatangani.Langkah kaki teratur terdengar mendekati pintu ruang kerja. Tok! Tok! Ketukan pelan dua kali membelah keheningan pagi yang tenang."Masuk," pukas Ethan pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor tipis di hadapannya.Pintu kayu jati berukir terdorong terbuka pelan. Marcus melangkah masuk dengan langkah mantap, membawa map kulit warna cokelat tua di bawah lengannya. Setelan jas hitam yang dikenakan tangan kanan Ethan itu tampak sangat rapi tanpa lipatan sedikit pun."Selamat pagi, Tuan Vance," sapa Marcus seraya membungkukkan badan penuh hormat.Ethan menghentikan gerakan tangannya di atas meja, lalu menyandarkan punggung
Read more