로그인Beatrice menggelengkan kepalanya pelan, air matanya berjatuhan ke atas gaun merahnya yang kotor.Pikirannya sudah buntu. Ia tidak bisa menebak hukuman apalagi yang sudah disiapkan oleh suaminya untuk menyiksa sisa hidupnya."Apakah ini surat penyitaan aset pribadiku?" tebak Beatrice dengan suara bergetar nyaris berbisik."Atau ini surat perintah penahanan dari kejaksaan agung? Tolong jangan siksa aku lagi, Arthur. Aku sudah tidak kuat," rengek wanita itu memohon belas kasihan.Arthur mendengus pelan, menatap tajam ke dasar kebodohan istrinya."Surat penahananmu sudah diurus oleh kepolisian. Seluruh hartamu sudah disita oleh negara," jawab Arthur membongkar fakta hukum yang sudah berjalan."Map putih ini tidak ada hubungannya dengan harta atau uang. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih penting dari semua perusahaan yang aku miliki," lanjut pria tua itu penuh penekanan.Arthur perlahan membuka sampul map putih tersebut.Suara gesekan kertas di dalam map itu terdengar sangat nyari
"Bicaralah pada Ayahmu, Tiffany. Tolong bujuk dia. Jangan biarkan polisi ini membawaku pergi," tangis Beatrice memohon belas kasihan."Kamu tahu aku ini sakit-sakitan, kan? Jantungku lemah. Aku bisa mati di dalam sel penjara yang dingin itu. Kamu tidak mau melihat Ayahmu menjadi duda untuk kedua kalinya, kan?" rayu wanita itu menggunakan alasan kesehatan yang sangat konyol.Ethan Vance mendengus pelan, menahan tawa mengejek mendengar alasan murahan yang baru saja dilontarkan oleh mertua tirinya tersebut.Pria penguasa bisnis itu merengkuh pinggang istrinya sedikit lebih erat, memberikan dukungan penuh bagi Tiffany untuk menghadapi wanita ular ini.Tiffany menarik napas panjang, suaranya mengalun sangat tenang namun tajam menyayat hati."Kamu menyebut dirimu Ibuku?" tanya Tiffany dengan nada merendahkan yang luar biasa elegan.Beatrice mengangguk cepat, air matanya berhamburan turun membasahi dagunya."Iya, Nak. Aku ini Ibumu. Aku yang membesarkanmu sejak kamu masih remaja. Aku
"Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu, pelacur," desis Arthur dengan sorot mata yang menyala penuh kebencian.Beatrice mengabaikan peringatan itu, ia terus melanjutkan sandiwara dramatisnya demi mendapatkan setitik belas kasihan."Aku mengorbankan masa mudaku untuk mengurus pria tua yang sedang patah hati, Arthur! Aku memberikan seluruh jiwa ragaku untuk membangun kembali semangat hidupmu!" teriak Beatrice memukul lantai dengan lututnya."Apakah belasan tahun pengabdianku tidak ada artinya sama sekali di matamu?! Apakah satu kesalahan ini harus menghapus semua kebaikanku?!" tuntut wanita itu merasa dirinya adalah korban ketidakadilan.Arthur menarik napas panjang, menahan dorongan kuat untuk menendang wajah munafik yang sedang berlutut di depannya ini.Pria tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dasar bola mata cokelat istrinya yang penuh dengan kepalsuan."Pengabdian? Kamu menyebut pencurian uang lima puluh dua juta dolar sebagai bentuk pengabdian?!" ma
Hawa dingin menyengat kulit di dalam aula pesta yang kini telah berubah fungsi menjadi ruang eksekusi tanpa ampun.Dua orang petugas kepolisian berdiri tegap di sisi kanan dan kiri Beatrice Rosewood, menahan paksa kedua bahu wanita itu agar tetap berlutut di atas lantai marmer.Borgol besi yang mengunci pergelangan tangannya di belakang punggung bergemerincing pelan setiap kali tubuh wanita paruh baya itu gemetaran menahan isak tangis.Arthur Sinclair berdiri menjulang tepat di depan wajah istrinya, memegang sebuah map putih tipis yang memancarkan aura ancaman luar biasa pekat.Pria tua itu menatap ke bawah, melihat sosok wanita yang selama belasan tahun ini tidur di sampingnya kini hancur berkeping-keping menjadi sampah yang paling menjijikkan.Riasan wajah Beatrice sudah luntur sepenuhnya, meninggalkan jejak hitam maskara yang mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi.Rambut sasak tingginya yang tadi tertata sangat rapi kini berantakan parah, beberapa helainya menempe
"Silakan masuk, Komandan," lapor Tuan Miller ke arah perangkat tersebut.Pintu samping ruang serbaguna perlahan terbuka.Dua orang pria bertubuh tegap dengan potongan rambut cepak melangkah masuk ke dalam ruangan.Mereka mengenakan jaket kulit hitam, namun lencana perak kepolisian memantul jelas di dada mereka.Melihat kedatangan pihak berwajib, para pelayan yang berbaris di sudut ruangan seketika mundur selangkah menahan napas ketakutan.Beatrice memutar kepalanya, matanya melotot ngeri menatap dua petugas kepolisian berpakaian preman yang berjalan cepat ke arahnya."S-siapa mereka? Mau apa mereka kemari?!" jerit Beatrice panik setengah mati.Wanita itu berusaha mundur dengan cara merangkak, namun kakinya tersangkut pada ujung gaunnya sendiri hingga ia terjatuh telentang.Dua petugas itu menghentikan langkah mereka tepat di depan Arthur, menundukkan kepala memberi hormat pada Presiden Direktur Sinclair Group tersebut."Selamat malam, Tuan Sinclair. Kami menerima laporan res
"Pengacara Miller," panggil Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari istrinya.Tuan Miller yang sejak tadi berdiri diam langsung melangkah maju mendekati majikannya."Ya, Tuan Sinclair. Saya siap menerima instruksi Anda," sahut pengacara senior itu dengan sikap profesional."Keluarkan surat wasiat baru yang sudah kamu siapkan tadi malam," perintah Arthur tegas.Beatrice membelalakkan matanya mendengar kata surat wasiat baru."Surat wasiat baru? Apa maksudmu, Arthur? Kamu bilang kamu akan menyerahkan perusahaan ini padaku!" teriak wanita itu panik."Itu janjiku pada istri yang setia. Bukan pada pencuri kotor sepertimu," jawab Arthur sangat dingin.Tuan Miller membuka koper hitamnya, mengambil sebuah map cokelat tebal yang tersegel rapi.Pengacara itu membuka segel tersebut, menarik keluar beberapa lembar kertas resmi berlogo firma hukum ternama."Berdasarkan instruksi Tuan Arthur Sinclair tadi malam, surat wasiat lama secara resmi dibatalkan sepenuhnya," baca Tuan Miller de
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin







