Jendela kamar wanita itu gelap gulita, menandakan sang pemilik kamar telah tertidur lelap setelah menjalani jam kerja yang meletihkan di rumah sakit.Ethan menyandarkan dahinya yang terasa panas pada permukaan kaca jendela yang dingin. Rasa dingin batu es kaca menembus kulit dahinya, memberikan sedikit kesegaran di tengah kepalanya yang makin pusing berkunang-kunang."Tidurlah yang nyenyak, Dokter Tiffany," bisik Ethan sangat pelan, napas panasnya membentuk kabut tipis di atas kaca bening. "Nikmati kemenanganmu malam ini."Pria itu memejamkan mata, membiarkan tubuh tegapnya bersandar sepenuhnya pada bingkai jendela kaca.Di dalam keheningan dini hari yang menyiksa itu, Ethan bersumpah pada dirinya sendiri bahwa pertempuran dingin ini tidak boleh berlangsung lebih lama lagi. Jika dia harus membuang seluruh keangkuhan, harga diri, dan dominasinya ke dalam jurang terdalam demi mendapatkan kembali lirikan mata istrinya, maka dia akan melakukannya tanpa ragu.Sebab, hidup sebagai pen
Read more