“Jujur, aku merasa tersentuh karena tindakanmu ini,” ungkap Zayn sambil menarik dagu Layla agar kembali memandangnya. “Hanya saja, apa yang sudah aku katakan, tidak bisa ditarik kembali.” Kalimat itu terdengar seperti vonis bagi Layla. Membuat wajahnya gadis itu kian memucat. “Tidak… tidak, Pangeran… kumohon jangan seperti ini!” Tangisan Layla mulai pecah. “Aku akan patuh setelah ini, aku akan minum obatnya, aku akan makan, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Tapi jangan hukum mereka, aku mohon.” Zayn masih berdiri dengan tenang, sikapnya angkuh seolah tak punya belas kasihan. Sementara di belakang mereka, suara tangisan tabib dan pelayan masih terdengar, semakin panik karena waktu mereka terasa semakin sempit. “Pangeran! Ampuni kami!” teriak tabib itu histeris. “Kami tidak bersalah!” Namun Zayn bahkan tidak menoleh. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Layla. “Pangeran...” “Kau terlambat, Layla,” ujarnya datar. “Seandainya kau patuh lebih awal, hal semacam ini ti
더 보기