Malam melarut tanpa suara di dalam apartemen. Setelah kabar tentang hangusnya ruang arsip panti asuhan diterima, tidak ada lagi perdebatan atau kepanikan yang meledak. Hanya ada kesunyian yang tebal, jenis sunyi yang lahir ketika sepasang manusia menyadari bahwa seluruh jalan keluar yang mereka rancang telah tertutup rapat.Reyhan duduk bersandar di lantai ruang tengah, meluruskan kakinya dengan kepala bersandar pada tepian sofa. Dasinya sudah lama ditarik lepas, menyisakan kerah kemeja yang terbuka berantakan. Di hadapannya, Malikha sedang melipat mukena dengan gerakan yang sangat lambat setelah menyelesaikan salat malamnya."Aku minta maaf, Malikha," ucap Reyhan memecah kesunyian, suaranya terdengar begitu lirih dan sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Aku adalah suamimu, pemimpin di rumah ini, dan juga CEO di perusahaan itu. Tapi saat mereka mempermalukanmu dan merampas seluruh pekerjaanmu siang tadi, aku hanya bisa du
Read more