Fajar menyingsing dengan sisa-sisa ketegangan malam yang belum sepenuhnya luruh. Di dapur apartemen, Malikha berdiri membelakangi meja pantry, menatap dua cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. Konflik batin yang mengendap setelah pertengkaran beradab semalam membuatnya terjaga lebih awal. Namun, alih-alih larut dalam kesedihan, batinnya justru kian kukuh. Sebagai wanita yang memegang teguh prinsip, ia menolak pasrah pada draf skenario pemecatan Reyhan yang disiapkan oleh komite hukum keluarga.Reyhan keluar dari kamar dengan langkah perlahan, penampilannya tampak sedikit kusut. Pria itu menghentikan langkah di ambang pintu pantry, menatap Malikha dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah. Jarak yang membentang di antara mereka setelah semalam tidur terpisah terasa canggung, namun kehangatan personal itu tidak benar-benar hilang."Tehnya sudah saya siapkan, Mas," ucap Malikha lembut, memecah keheningan tanpa ada nada ke
続きを読む