“Nyonya, Non Evelyn demam lagi. Dari tadi nangis terus nyariin Nyonya.”Suara panik pengasuh itu terdengar dari balik sambungan telepon. Daisy yang sedang menyusun potongan stroberi di atas cake langsung berhenti bergerak.“Demamnya tinggi?”“Iya, Nyonya. Badannya panas banget. Dari tadi juga nggak mau makan.”Daisy Wilson, wanita berusia 30 tahun itu segera meletakkan spatula di meja dapur toko kuenya.“Oke, saya pulang sekarang.”Ia menutup telepon cepat, lalu melepas apron putih dari tubuhnya. Wajah cantiknya yang biasanya tenang kini dipenuhi kecemasan.“Mina, tolong jaga toko sampai tutup, ya. Kalau ada pesanan masuk lagi, kabarin aku.”“Baik, Bu Daisy.”Daisy mengambil tasnya lalu berjalan cepat keluar dari toko kue kecil miliknya di pusat Kota Cresden.Hujan gerimis turun membasahi jalanan malam. Lampu kota memantul samar di kaca mobil selama perjalanan pulang, tetapi pikiran Daisy hanya tertuju pada putrinya.Evelyn jarang menangis saat sakit.Kalau anak itu sampai terus menca
Last Updated : 2026-06-02 Read more