Pak Udin berlari dari garasi. Bu Ratna menatap Keyna dengan napas tersengal. “Kamu ikut, Keyna. Kamu istrinya. Kamu harus ada di sana. Kalau ada apa-apa dengan Bara, kamu yang tanda tangan.”Keyna mengangguk cepat. Di dalam hatinya, ia bersyukur sekaligus ngeri. Gelang pecah, aib pengajian, semua mendadak tidak penting. Nyawa Bara lebih utama.“Pecahan gelangnya bagaimana, Nyonya?” tanya Pak Udin sambil menunjuk ke lantai.Jantung Keyna kembali berdetak kencang. Kenapa juga di saat genting begini, Pak Udin malah bertanya tentang pecahan gelang Ratna? Ingin rasanya Keyna memarahi Pak Udin, tapi dia hanya bisa diam saja. Bu Ratna melirik sekilas, lalu melambai. “Bungkus saja, Din. Masukkan plastik. Taruh laci. Tidak penting. Nyawa anakku lebih penting dari semua emas di dunia. Ayo Key!”Pak Udin memunguti kepingan itu dengan kening berkerut, lalu memasukkannya ke plastik bening.Keyna menatap plastik itu dari ekor matanya. 'Selamat.
Read more