Share

38 - Anak Raka

Author: Siez
last update publish date: 2026-07-04 12:00:11

"Kenapa, Key? Kenapa harus merebut dari Azalea? Bukankah dia baik kepadamu?" tanya Raka mendesak.

Keyna menghapus air mata yang sudah tumpah di pipinya. 

"Kenapa? Aku jadi jahat ya di mata kamu?"

Raka menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri juga salah karena telah meninggalkan Keyna. Tapi memang semuanya serba terdesak. 

"Ok... aku tak bisa menghakimi kamu salah atau pun benar. Sekarang, lebih baik kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."

“Jadi k

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Mas!   148 - Bukan Salah Kamu

    Suasana di VIP 302 pecah. Tangisan Bu Lidya melengking, Vanessa masih merangkak di lantai memeluk kaki Pak Hasan yang sudah diselimuti kain putih. Perawat mencoba menenangkan, tapi tidak ada yang bisa menenangkan seorang anak yang baru saja melihat papanya meninggal di depan matanya karena amarahnya sendiri.Arsen dan Azalea tidak mau banyak bicara dengan Vanessa yang masih berduka. Bukan waktunya. Bukan tempatnya untuk bicara. Apalagi dengan semua ancaman dari Vanessa tadi. Kematian menghapus semua perdebatan sesaat.Arsen memberi isyarat ke Azalea dengan anggukan kepala. “Kita keluar dulu, Zel.”Azalea mengangguk, matanya sembab. Mereka menyingkir dan pergi ke taman belakang rumah sakit, taman kecil yang sepi di belakang IGD, tempat keluarga pasien biasanya merokok dan menunggu.Taman itu ada bangku kayu di bawah pohon ketapang. Jam 2 siang, panas, tapi sepi. Tidak ada orang.Begitu duduk di bangku itu, tangan Azalea bergetar hebat. S

  • Ceraikan Aku, Mas!   147 - Innalillahi

    “PAPAAA!!! PAPA BANGUN, PA!!!”Teriakan Bu Lidya dan Vanessa memecah seluruh lantai 3 VIP. Perawat jaga yang sejak tadi hanya berani mengintip dari luar langsung lari masuk, menekan tombol emergency biru di dinding.TING NONG! TING NONG!“CODE BLUE! VIP 302! CODE BLUE!”Dalam 30 detik, ruangan itu penuh. Dua perawat, satu dokter jaga IGD, dan satu troli resusitasi didorong cepat.Pak Hasan tergeletak di lantai, posisi miring. Wajahnya pucat abu-abu, bibirnya sudah membiru. Keringat dingin membasahi kemeja batiknya. Mata terpejam.Bu Lidya dipeluk perawat dan ditarik mundur. “Ibu, minggir dulu, Ibu! Kasih kami ruang!”Vanessa di ranjang hanya bisa menangis histeris, tidak bisa turun. “Papa! Papa jangan tinggalin Vanessa, Pa! Pa!”Dokter jaga, dr. Rian, langsung jongkok, ia mengecek nadi karotis.“Nadi tidak teraba! Tidak ada napas! Mulai RJP!”Perawat lang

  • Ceraikan Aku, Mas!   146 - Tumbang

    Vanessa berteriak-teriak dan marah-marah di dalam ruangan VIP No 302 itu sendirian. Setelah Azalea pergi dengan senyum puasnya, ia melempar semua yang bisa ia jangkau. Gelas plastik, tisu, remote AC.“Perempuan sialan! Janda sialan! Mandul! Mandul! Pantasnya kamu itu mati! Pantas! Dasar penjual sambal murahan! Kamu pikir kamu menang, hah? Kamu pikir kamu menang?!”Semua sumpah serapah ia katakan walaupun tak ada Azalea yang akan mendengarkan semua teriakannya itu. Suaranya sampai terdengar sampai ke pos perawat. Beberapa perawat hanya saling pandang, tidak berani masuk karena tahu keluarga ini temperamental.“Arsen itu milik aku! Milik aku! Bukan milik kamu! Aku yang pertama! Aku!”Ia memukul-mukul ranjang, sampai infusnya hampir lepas dan perban di bokongnya terasa nyeri menyengat. Tapi rasa sakit fisik kalah dengan rasa malu karena dijebak.Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan keras. Bu Lidya dan Pak Hasan datang. Merek

  • Ceraikan Aku, Mas!   145 - Senyuman Penuh Jebakan

    Azalea akhirnya datang ke rumah sakit untuk menemui Vanessa. Sendirian. Tanpa Arsen. Ia pakai kemeja putih, celana bahan hitam, rambut sebahu diikat rapi, dan terlihat sangat cantik. Wajahnya polos, tidak pakai make up tebal, tapi matanya tajam. Di tangannya hanya ada satu map plastik bening, bukan buah atau bunga.Ia mengetuk pintu VIP 302.“Permisi.”Di dalam, Vanessa sedang berbaring miring sambil memainkan ponselnya. Bokongnya masih diperban, infus masih terpasang. Begitu melihat siapa yang masuk, wajah Vanessa langsung berubah menjadi kesal. Dari bosan jadi benci dalam satu detik.“Ngapain kamu di sini?!”Azalea masuk, menutup pintu pelan.“Mau apa lagi Azalea datang ke tempatku? Mau menertawakan aku? Hah? Mau lihat aku lumpuh? Puas kamu? Puaskah kamu lihat aku begini?!” teriak Vanessa dengan suaranya yang melengking, walau pinggangnya sakit.Azalea tidak terpancing. Ia berjalan pelan ke arah V

  • Ceraikan Aku, Mas!   144 - Pelukan Azalea Untuk Arsen

    Arsen malas untuk mendatangi ruang perawatan Vanessa lagi. Sungguh malas. Setiap kali ia ingat wajah Bu Lidya yang tersenyum licik dan Pak Hasan yang menonjoknya, kepalanya makin sakit.Ia lebih baik pulang dan izin tidak masuk kerja hari ini. Ia sudah kirim pesan ke Kepala Ruangan IGD.Arsen : Izin tidak masuk hari ini, Dok. Ada keperluan keluarga mendadak. Tolong cover jaga saya.Ia lelah. Bukan lelah fisik karena jaga semalaman, tapi lelah mental. Rasanya otaknya penuh. Ia butuh tidur. Atau mungkin lebih tepatnya butuh Azalea. Butuh suara Azalea yang cerewet soal cabai, butuh tawa Azalea yang lepas.Tapi otaknya masih kacau. Ia belum bisa bertemu dengan Azalea dalam kondisi begini. Dengan pipi lebam, bibir pecah, baju bau keringat, dan ia sangat kacau sekarang. Apa kata Azalea nanti? Azalea pasti khawatir.Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Layar ponsel menyala.Azalea: Mas, kamu di mana? Kamu nggak apa-apa?Azalea: Aku chat dar

  • Ceraikan Aku, Mas!   143 - Alasan Putus

    "Kenapa dulu putus kalau memang cinta sama Arsen?" tanya Pak Hasan lagi.Vanessa tergagap. Bibirnya bergetar. Ia tahu, ia tidak bisa bohong lagi. Kalau ia bohong lagi, semuanya akan hancur. Polisi sudah dilapor.Akhirnya ia tarik napas panjang, suaranya pelan, pecah.“Baik, Pa. Ma. Aku cerita yang sebenarnya. Yang selama ini tidak pernah aku ceritakan ke siapa pun.”Bu Lidya dan Pak Hasan menatapnya dengan sangat serius.Vanessa mulai bicara, sambil menangis pelan.“Sebenarnya Vanessa putus dengan Arsen dulu bukan karena LDR. Aku putus karena aku pikir Arsen itu orang miskin.”Pak Hasan mengernyit. “Miskin?”Vanessa mengangguk, air mata mengalir.“Waktu SMA, Arsen memang pintar, juara basket, tapi dia sederhana. Aku pikir dia miskin. Tidak selevel sama aku. Waktu itu ada kakak kelas, namanya Kevin, anak pengusaha batubara, mau sekolah ke Singapura. Dia dekatin aku terus. Bawain a

  • Ceraikan Aku, Mas!   2 - Talak Pertama

    Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status