Compartir

89 - Arsen Cemburu

Autor: Siez
last update Fecha de publicación: 2026-07-20 12:03:42

Langit sudah jingga keunguan. Awan berarak pelan. Lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala satu per satu, memantul di kaca-kaca mobil yang terjebak macet.

Di dalam mobil SUV hitam milik Arsen, suasana justru berbeda. Dingin. Hening. Hanya ada suara embusan AC dan detak detik jam digital di dashboard.

Azalea duduk di kursi penumpang depan. Hoodie putihnya sudah agak kusut. Tangannya memainkan ujung tali hoodie, kebiasaan lama saat dia gugup. Matanya menatap lurus ke depan

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ceraikan Aku, Mas!   100 - Memohon Azalea Cabut Laporan Bara

    Pukul 03.10. Ruang Tahanan Polsek“Pak, boleh saya telepon pengacara saya?” tanya Bara ke petugas jaga.Petugas mengangguk, menyodorkan ponsel dinas. “Jangan lama-lama.”Jari Bara gemetar mencet nomor. Tut… tut…“Halo?” suara berat, serak bangun tidur.“Ramon? Ini Bara. Bang, tolongin aku, Mon. Aku di sel Polsek.”Di seberang, Ramon langsung duduk. Jam 3 pagi ditelpon klien dari kantor polisi jelas bukan kabar baik.“Kamu kenapa lagi, Bar? Kenapa kamu malah ada di sel tahanan?”“Aku… aku ke rumah Azalea, Mon. Aku cuma mau ngomong. Tapi dia laporin aku melakukan trespassing. Aku ditangkep, Mon. Tolong keluarin aku sekarang. Sekarang juga!”Ramon mengusap wajah. “Gila kamu tuh ya? Aku sudah susah payah negosiasi sama Azalea biar kalian rujuk, dia nolak mentah-mentah. Sekarang kamu malah bikin masalah baru. Kamu melakukan tres

  • Ceraikan Aku, Mas!   99 - Arsen Temani

    “Zel, kamu denger aku nggak?” suara Arsen dari seberang telepon sana, ia sangat cemas dengan keadaan Azalea. “Aku lima menit lagi sampai. Kamu kunci semua pintu, ya. Jangan buka buat siapa-siapa selain aku.”Azalea mengangguk, baru sadar Arsen tidak bisa melihat. “I… iya, Mas,” bisiknya. Suaranya habis.Ah ya, Arsen adalah kontak darurat yang dicantumkan Azalea kepada Pak RT. Jadi, wajar saja kalau Arsen yang akan dihubungi Pak RT kalau terjadi sesuatu dengan Azalea.Ting tong.Bel rumah berbunyi pelan. Azalea tersentak. Jantungnya hampir copot.“Zel, ini aku,” suara Arsen dari luar. “Buka pelan-pelan. Aku tunggu di sini.”Dengan kaki gemetar, Azalea menggeser kursi, membuka dua kunci, lalu membuka pintu sedikit. Arsen berdiri di sana, rambut basah, jaket windbreaker menempel di badan. Di tangannya ada kantong plastik minimarket.Begitu pintu terbuka, Arsen langs

  • Ceraikan Aku, Mas!    98 - Bara Nekat

    Brumm…Suara mobil berhenti mendadak di depan pagar. Lampu depan menyorot jendela kamar Azalea sesaat, lalu mati.Dari mobil itu, Bara keluar. Wajahnya pucat, mata merah, napas memburu. Pikirannya sudah kacau dan rasanya ia sudah tak peduli dengan Bu Ratna yang sendiria. Ia pergi dengan naik taksi daring langsung ke alamat Azalea yang dulu pernah diberikan oleh asistennya yang ia suruh untuk menyelidiki dimana tempat Azalea tinggal sekarang.Bara berdiri di depan pagar besi setinggi dada. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena campuran panik, marah, dan putus asa.Ia menekan bel. Teng… teng… teng…Tidak ada jawaban.Ia menekan lagi. Lebih lama. Tenggggg…Lampu kamar lantai dua tetap mati.“Zel! Azalea!” panggilnya, setengah berbisik, setengah teriak. “Buka, Zel! Aku perlu ngomong!”Hening.Bara menelan ludah. Logikanya bilang pulang. H

  • Ceraikan Aku, Mas!   97 - Senjata Tak Mempan

    “Ya sudah kalau kamu nggak butuh, Mas.” tegas Azalea tanpa kompromi.Bara tersentak. “Apa?”“Terserah kamu, Mas,” ulang Azalea. “Dari awal aku bilang, aku bantu sebagai teman. Sebagai sesama manusia. Bukan sebagai istri. Bukan karena aku mau rujuk sama kamu. Kalau kamu pakai kalimat ‘biar kami mati aja’ cuma buat bikin aku nggak jadi pergi, maaf, cara itu udah nggak mempan.”Wajah Bara seketika pucat. Rencananya gagal.Azalea merapikan jaketnya, menoleh ke Arsen. “Mas, kita pulang.”Arsen mengangguk. Ia berdiri, badannya menghalangi Bara secara halus. “Ayo, Zel.”Mereka berjalan beriringan ke arah lift. Baru tiga langkah, Bara tersadar.“ZEL!”Bara maju cepat, menyambar pergelangan tangan Azalea dari belakang. Cengkeramannya kuat. Panik.Azalea berhenti. Tidak menoleh. Punggungnya tetap menghadap Bara.Arsen

  • Ceraikan Aku, Mas!   96 - Senjata Lama Bara

    Pukul 00.12. Lantai 4 RS PON. Depan Ruang ICU.Udara dingin. Bau disinfektan menusuk hidung. Hanya ada suara beep monitor dari balik kaca dan dengung AC yang tidak henti-hentinya.Azalea bergerak. Pelan. Lehernya pegal. Ada hangat di pipi kanannya. Ketika membuka mata, ia sadar kepalanya bersandar di bahu seseorang. Jaket hitam. Wangi mint dan kopi. Arsen.Ia tersentak, langsung menegakkan badan. “Maaf, Mas… aku… ketiduran.”Arsen menoleh. Matanya teduh, tapi ada garis lelah di bawahnya. Ia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Kamu capek banget, Zel.”Ia menatap wajah Azalea yang pucat, bibir kering, rambut berantakan. “Kamu mau pulang?” tanyanya, suaranya serendah mungkin agar tidak mengganggu lorong ICU. “Aku lihat kamu butuh istirahat. Beneran. Kamu udah dari pagi muter-muter. Live, rumah sakit … badan kamu bisa tumbang.”Azalea membuka mulut, hendak menjawab. Namun, belum

  • Ceraikan Aku, Mas!   95 - Tepati Janji

    Ruang live sudah sepi. Tim pulang satu per satu sambil mengucap selamat. Mbak Ika menepuk pundak Azalea sebelum keluar. “Kak, istirahat ya. Omzet hari ini berkah banget. Besok kita rekap dan langsung kerjakan.”Azalea mengangguk. Ia duduk sendiri di kursi host. Lampu studio sudah dimatikan, tersisa lampu downlight yang temaram. Badannya remuk. Kepala pening. Sejak pagi ia belum makan layak, hanya sempat menelan dua sendok sayur asem yang gagal sampai ke Bara.Ia menatap ponsel. Jam 21.47. Ia ingat janjinya: “Aku balik lagi habis live.”Dengan jari gemetar, Azalea membuka WhatsApp, mencari nama Arsen.Azalea: Mas, kamu masih di RS?Balasan masuk kurang dari lima detik.Arsen: Masih. Di depan ICU. Bara di dalam, aku di luar. Jaga-jaga kalau dia butuh apa-apa. Kamu gimana? Live lancar?Azalea: Lancar, Mas. 7200 botol. Makasih ya, Mas. Maaf banget ngerepotin. Mas pasti capek juga.Arsen: Nggak apa-apa. Kamu

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

  • Ceraikan Aku, Mas!   4 - Digeledah Ibu Mertua

    Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status