Arsen yang lagi membantu nge-seal botol menoleh ke arah Azalea lalu tersenyum begitu manis. “Beneran, Zel. Nggak usah takut. Perusahaan itu aku yang bantu cari. Proposalnya juga aku yang kirim.”“HAH?”“Iya. Kamu sibuk packing, aku sibuk jaga IGD. Aku lupa bilang. Maaf ya,” Arsen garuk kepala, salah tingkah.Sedetik kemudian.“AAAAA MAS ARSEN!!” Azalea teriak, langsung loncat, kalungin tangan ke leher Arsen. Muter-muter. “Masuk SuperIndo? 200 cabang? MAS, AKU SAYANG MAS!!”Prang. Satu botol jatuh. Empat karyawan: Mbak Ika, Teh Lia, Ujang, Deni, langsung diem. Terus ngakak bareng.Arsen kaku. Kuping merah. “Zel… zel… karyawan liatin…”Azalea sadar. Langsung lepas, mundur 3 langkah, muka tomato. “Eh, ma… maaf, Mas. Kelepasan. Refleks.”Arsen ketawa, biarin. “Tak apa. Aku juga seneng liat kamu seneng.”
Mehr lesen