로그인Rino mengunci pintu kamarnya. Ia menatap wajah Luna yang masih terlihat sedih oleh rasa bersalah. Egonya sebagai seorang lelaki langsung terusik.
Ia mengangkat tangannya, menyentuh dagu perempuan di hadapannya untuk mengunci tatapannya.“Luna, jangan ngerasa bersalah. Aku yang sukarela ngelakuin ini,” ujar Rino dengan suara yang lembut, “kamu tau sendiri Sekar seperti apa. Nggak usah dengerin dia, ya.”Luna mengerucutkan bibirnya dengan manja. “Tapi Mas, kalau MaRino mengunci pintu kamarnya. Ia menatap wajah Luna yang masih terlihat sedih oleh rasa bersalah. Egonya sebagai seorang lelaki langsung terusik. Ia mengangkat tangannya, menyentuh dagu perempuan di hadapannya untuk mengunci tatapannya. “Luna, jangan ngerasa bersalah. Aku yang sukarela ngelakuin ini,” ujar Rino dengan suara yang lembut, “kamu tau sendiri Sekar seperti apa. Nggak usah dengerin dia, ya.” Luna mengerucutkan bibirnya dengan manja. “Tapi Mas, kalau Mas masih antar aku … dia bakal ngamuk lagi. Aku nggak mau hubungan kalian jadi rusak gara gara aku.” Rino menatap mata Luna yang mulai berkaca-kaca. Perlahan ibu jarinya menyentuh pipi lembut kekasihnya dan mengusapnya. “Nggak akan. Sekar nggak mungkin punya pikiran sepicik itu. Aku sudah mengenalnya cukup lama,” sahut Rino. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan senyuman yang menenangkan bagi kekasihnya. “Percayalah. Nanti juga dia bakal lupa dan seperti biasa.”“Mas,
Siang itu ….Luna menggenggam tangan Rino saat melangkah masuk ke dalam rumah sekaligus kantor Sentosa Agensi. Ia melenggang begitu saja di hadapan beberapa anak baru yang sedang berlatih dengan gigihnya. “Mas Rino!” Suara keras Sekar, segera membuat Rino menghentikan langkahnya. Lelaki itu memutar tubuhnya dan menatap gadis berpotongan rambut cepak itu. Gerakan itu membuat Luna yang masih menggandeng tangannya, terpaksa ikut berhenti. “Ada apa?” tanya Rino tanpa rasa bersalah.“Kamu ini … beneran! Nggak bisa ya, bertanggung jawab dikit,” ketus Sekar, “kamu tuh pemimpin kami di sini!” Rino mengerutkan keningnya. “Maksud kamu apa, Sekar?” “Ya … setidaknya kamu kerjakan tugas kamu. Latih mereka, bukan serahkan semua muanya ke aku,” protes Sekar, “aku harus berangkat kerja. Mbak Vero bisa marah kalo aku terus terusan telat gara gara ngegantiin tugas kamu … sementara kamu sendiri malah milih jadi tukang ojek pribadi ses
Suasana di ruang tamu mess Agensi Sentosa mendadak hening. Gufron yang tertunduk lesu di sudut ruangan perlahan mengangkat wajahnya, menatap Raka dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan. Tanpa diduga, Gufron langsung melangkah ke tengah ruangan dan berlutut di hadapan Raka."Mas Raka ... saya bodoh, Mas …," suara Gufron tercekat, isakannya lolos begitu saja. "Saya benar-benar minta maaf. Saya termakan tipu daya perempuan itu sampai mengorbankan agensi kita. Kalau Mas Raka mau memecat saya secara tidak hormat, saya ikhlas."Raka menatap Gufron sejenak, lalu mengisyaratkan dengan tangannya agar pria itu berdiri. "Bangun, Gufron. Menyesal itu bagus, tapi penyesalan tanpa perbaikan tidak ada artinya. Kesalahanmu sudah dibayar lunas dengan skorsing. Sekarang, kalau kamu benar-benar ingin menebus kesalahanmu pada Agensi Sentosa, dengar baik-baik apa yang akan kita lakukan."Mendengar kata-kata Raka, Gufron mengangguk cepat dan menyeka air matanya, lalu b
Pagi harinya, sinar matahari hangat mulai merayap masuk menembus celah ventilasi mess Agensi Sentosa. Udara dingin kota perlahan berganti tebalnya rasa lelah usai sif malam. Di ruang tamu mess yang sederhana, Parto, Vico, dan Sudar masih mengenakan seragam dinas mereka. Ketiganya sengaja tidak langsung tidur, duduk melingkar menunggu kedatangan Raka untuk melaporkan perkembangan situasi di Jalan Rambutan.Pintu depan mess berderit pelan. Langkah kaki yang menyeret terdengar mendekat.Gufron masuk dengan wajah sangat lesu. Wajahnya layu, matanya sembab, dan kedua bahunya melorot seolah membawa beban seberat gunung.Gufron melepaskan topi petnya, lalu meletakkannya di atas meja. Ia melirik kawan-kawannya yang sedang duduk berkerumun."Gimana ... gimana shift kalian semalam di Jalan Rambutan?" tanya Gufron dengan suara parau yang tertahan. “Ya begitulah, “ sahut Sudar sekenanya.Ia ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya membe
Pak Bambang melangkah maju dengan derap kaki yang kasar. Suara sepatunya menghantam lantai ruangan kerja dengan begitu keras, menciptakan gema mencekam yang membuat bulu kuduk Sisca langsung berdiri.Wajah pria itu merah padam, mata yang melotot tajam seolah hendak menelan Siska, meledak - ledak dipenuhi emosi yang meluap. Tanpa peduli dengan keberadaan Parto dan Vico, Pak Bambang mencengkeram tangan perempuan itu dengan kasar dan menyeretnya.“Pak Bambang, tolong jangan kasar.” Parto langsung pasang badan menghalangi langkah lelaki itu. “Diam kamu! Aku ada urusan dengan perempuan ini!” sahut laki - laki itu dengan wajah yang semakin gusar. “Iya, Pak, tetapi Siska itu perempuan dan tidak harus diseret - seret seperti kambing, kan?” sahut Vico tenang dengan nada menyindir. “Kamu, orang baru jangan-”“Saya tidak mau ikut campur, Pak, tetapi salah satu tugas satpam juga menjaga keamanan dan kenyamanan pekerja di tempat ini.” Vico
Sosok yang melangkah keluar dari sudut lorong itu adalah Parto. Komandan regu satpam Agensi Sentosa itu berjalan mendekat dengan langkah tegap, sorot matanya yang tenang tapi tajam langsung mengunci keberadaan Siska dan Vico yang berdiri tegang di depan pos pantau lantai atas."Ada apa ini, Vic? Kenapa Mbak Siska menangis di jam operasional begini?" tanya Parto dengan nada suara berat yang begitu mantap.Setelah tekanan yang diberikan pada kelompoknya, Parto yang paling dewasa merasa bertanggung jawab untuk memastikan semua bekerja dengan baik dan jauh dari ancaman.Vico menoleh ke arah seniornya, lalu menghembuskan napas panjang. "Ini, Mas Parto. Mbak Siska tiba-tiba datang sambil menangis, minta saya nemenin dia masuk ke ruang arsip di ujung lorong sana. Katanya mau beresin dokumen kasir. Tapi pas saya tanya kenapa harus di ruangan sepi, dia malah tambah bingung."Parto memiringkan kepalanya sedikit, menatap Siska yang kini makin merapatkan tubu
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya







