“Love your enemies because they bring out the best in you.” —Friedrich Nietzsche _________________________________ “Gue mau nunjukin lo sesuatu,” tukas Tito setelah amat terpaksa menjauhkan bibir dari bibir Jameka. Karena jika tidak, ia yakin akan kebablasan. Indra peraba, perasa, pembau, dan pengecapnya, pasti akan ke mana-mana; menjelajahi setiap jengkal tubuh Jameka. Bagaimanapun, mereka sedang di rumah sakit. Tidak sepatunya berbuat yang iya-iya. “Apa itu?” tanya Jameka penasaran sekaligus merasa hampa manakala Tito turun dari ranjang. Tito mengambil tas selempang di nakas, mengeluarkan sesuatu, menenteng, lalu memakai benda itu menjadi kacamata. Jameka terperanjat, memelotot, dan praktis menganga. “Astaga, Tito! Ngapain, sih? Tolol!” omelnya yang sontak turun dari ranjang dengan hati-hati untuk merebut bra warna pastel berenda transparannya. Namun, Tito lebih gesit dengan mengambilnya lebih dulu sebelum mengangkatnya tinggi-tinggi. “Eits! Lo kagak boleh loncat-lonca
اقرأ المزيد