“To, please .... Jangan, To.” Kedua tangannya yang berada di dada Tito melemah. Entah kenapa ia malah tidak bisa menahan tangis. Tak peduli seberapa ganas ia memukuli Tito lantaran kesal, tetapi melihat kepedulian pria itu yang begitu besar terhadapnya, air matanya lolos begitu saja. “Jameka,” panggil pria itu berubah lirih, bingung. Kedua tangannya pun naik ke wajah Jameka dan mendongakan wanita itu. “Jangan nangis.” “Terus gimana? Gue mesti ngapain? Asli gue capek, To. Sumpah gue capek. Makasih banget Lo mau peduli sama gue. Tapi, please .... Jangan nambah-nambahin pikiran gue dengan masalah baru. Which is, lo yang mau hajar Kevino,” mohon Jameka, “dan karena itu gue pengin tidur di sini. Kamar lo nyaman banget. Gue jadi bisa tidur nyenyak .... Setelahnya gue pasti bisa berpikir logis lagi. This isn’t just a place. Banyak tempat lebih bagus daripada kamar ini. Ada kamar adik gue juga di sini. But, your room seems like home to me, and I don’t know why?” Apa sesungguhnya maksud Ja
اقرأ المزيد