“Dasar! Enggaklah! Ini kemeja sama jasmu ketinggalan.” Jameka menyerahkannya dengan senyum yang tak bisa dipudarkannya. Kevino menerima goodie bag, kemudian membuka pintu. Ia pun keluar, tetapi sebelum menutup pintu, Kevino melongokkan kepala. “Beneran nggak pengin dibikinin seribu candi?” “Apaan? Enggaklah! Ada-ada aja!” omel Jameka, masih sambil tertawa. Kevino tersenyum menatap wanita di depannya. Lalu dengan serius ia bertutur, “I love your smile, specially when I made it. Oh, ya. Jangan ngerendahin diri sendiri. Kamu berharga, Jameka Michelle. Well, see you soon.” Pintu resmi ditutup. Jameka langsung menutupi wajah menggunakan kedua tangan. Ia hampir menjerit, melompat-lompat kecil, dan salah tingkah. “He’s funny, kind, and gentle.” Pipi Jameka terus naik sedari meletakkan tas dan stiletto di lemari koleksinya, hingga duduk di depan cermin rias untuk memberikan riasannya. Jameka memperhatikan pantulan dirinya di cermin sembari memegangi kedua pipi. “Padahal masih
Read more