Baik Tito maupun Allecio kompak menghentikan tawa guna menghadap belakang, ke sumber suara wanita yang amat mereka kenal. Reaksi kaget mereka serupa. Hanya sedikit, tidak berlebih meski mendapati Jameka bertolak pinggang. Mereka bahkan bertingkah biasa saja seakan-akan tidak baru saja membicarakan Jameka dan Jayden. “Eh, ada Yang Mulai Ratu,” gumam Tito sambil meringis. Tuh, kan, kadal sawah ini malah cengar-cengir! Dasar grandong! Jameka sebal sekali. Allecio bertanya pada Jameka. “Jame? Kok, ke sini?” Matanya menyipit lantaran posisi Jameka yang menantang matahari. Bukannya menjawab papanya, Jameka malah mengomel, “Jadi gini obrolan Papa sama Tito di belakangku?” Tito pura-pura mengaduk-aduk tanah lalu merapikan tanaman sambil bersiul. Sedangkan Allecio mengikuti Tito nyengir kuda. “Baru kali ini doang, Jame,” jawab papanya. “Kok, aku nggak yakin, ya, Pa?” “Keyakinan itu urusan masing-masing, Yang Mulia Ratu,” sambar Tito. “Perasaan gue udah pernah bilang.” “Diem lo kadal
Read more