Jameka kontan berhenti tertawa. “Namanya Kevino Eclipster, To. Bukan Bang Ke.” “Ya terserah. Mau dia Bang Ke, bunglon, kodok sungai, tokek gurun, cicak pohon, ulat nangka, kambing congek. Yang penting pertanyaan gue masih sama. Lo diapain sama dia? Awas aja sampai gue denger dia ninggalin lo abis kalian nananina.” Lama sekali Jameka menatap Tito. Entah kenapa saat ini ia merasa amat lemah. Hingga akhirnya tidak bisa membantah Tito dan terpaksa jujur. “Well, first of all, for your information, gue nggak pernah nananina sama Kevino. Oke ... kissing, cuddling, yah ..., grepe-grepe dikit—oke, banyak. Iya, banyak. Nggak usah pasang muka mencemooh gitu, dong, To!” Jameka tersinggung. “Yang di Samarinda?” Jameka memutar bola mata malas. Ia lupa kalau bicara dengan Tito bisa mengubah suasana hati secepat kilat menyambar langit mendung. Namun, kali ini ke arah yang baik. Padahal tadinya ia sudah hampir menumpahkan air mata. Beruntungnya belum. Kalau sudah, ia tidak bisa membayangkan reaks
اقرأ المزيد